Sofyan Djalil, Menko Perekonomian, menilai utang pemerintah masih sehat. Dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB), nilainya sekitar 25% dan itu terbilang rendah dibandingkan negara-negara lain.
"Sebenarnya utang itu nggak masalah selama kita gunakan untuk yang produktif. Rasio utang kita terhadap PDB juga masih rendah, sekitar 25%," kata Sofyan saat ditemui di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (26/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, lanjut Sofyan, utang tidak selalu negatif. Utang bisa menjadi positif bila digunakan untuk hal-hal yang produktif, seperti pembangunan infrastruktur.
Oleh karena itu, tambah Sofyan, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun masih akan menarik utang. Termasuk dari luar negeri, seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), atau Jepang. Pasalnya, utang luar negeri lebih murah dibandingkan menerbitkan surat utang alias obligasi.
"Sebanyak mungkin (utang luar negeri) kita akan gunakan untuk infrastruktur. Dari Bank Dunia, ADB, JICA (Japan International Cooperation Agency), utang-utang yang bunganya 1% ke bawah dibayar paling cepat 30 tahun. Kalau pergi keluarkan global bond itu 7-8%, rupiah 8-9%," paparnya.
(hds/hen)










































