Sri Mulyani: Kuartal I 2005 Paling Reasonable Naikkan BBM

Sri Mulyani: Kuartal I 2005 Paling Reasonable Naikkan BBM

- detikFinance
Kamis, 03 Feb 2005 16:12 WIB
Jakarta - Meneg PPN/Kepala Bappenas Sri Mulyani menegaskan, waktu yang paling reasonable untuk menaikkan harga BBM adalah pada kuartal I tahun 2005. Pemerintah sendiri masih mempertimbangkan sejumlah skenario kenaikan BBM."Saya rasa first quarter itu paling realistis. Waktunya kapan itu kan tergantung. Saya katakana range satu quarter itu yang paling reasonable," ujar Sri Mulyani usai pembukaan Rapimnas Kadin di Istana Negara, Jakarta, Kamis (3/2/2005).Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini setidaknya ada 3 faktor yang menjadi dasar pertimbangan pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Pertama, soal waktu karena akan menentukan pengeluaran subsidi yang akan keluar dan total subsidi yang akan dianggarkan pada akhir tahun yang akan dianggarkan.Kedua, harga minyak dunia yang masih di atas US$ 40-45 per barel, padahal dalam APBN yang disetujui adalah US$ 24 per barel. "Jadi selisihnya jauh sekali," tegasnya.Ketiga, keputusan total defisit APBN 2005, yang ditargetkan 1 persen dari PDB. Dari defisit ini, pemerintah selanjutnya akan menentukan kemampuan pendanaannya."Jadi dari tiga faktor itu akan muncul berapa kebutuhan kenaikan BBM yang dianggap rasional dari sisi kemampuan masyarakat yang menanggungnya dan juga dari sisi kebijakan makro ekonomi," ujar Sri Mulyani.Ia juga mengakui bahwa ekspektasi kenaikan harga BBM itu setidaknya menjadi salah satu faktor yang memicu tingginya inflasi pada Januari 2005 lalu. "Salah satu penyebabnya adalah adanya pembahasan dan juga di surat kabar tentang kenaikan BBM yang membuat pengusaha melakukan hedging atau perlindungan terhadap tingkat biaya yang sekarang dikeluarkan sehingga dapat dijual pada beberapa saat kemudian," paparnya.Namun menurutnya, ada sejumlah faktor lain yang turut mempengaruhi yakni kenaikan permintaan karena tahun baru dan sebagainya yang dinilai masih dalam batas normal. "Juga dalam aspek ini, jumlah uang beredar, pengularan pemerintah memicu atau tidak. Tapi kalau dari sisi lain seperti dideteksi aspek yang sifatnya lebih spekulasi," katanya. Saat dikonfirmasi apakah besaran kenaikan harga BBM di kisaran 10-30 persen, Sri Mulyani mengakuinya, namun berapa tepatnya tengah dihitung pemerintah. "Itu semua dalam batas yang kita hitung. 30 persen adalah satu hal yang kami pertimbangkan dan bukan satu-satunya," ungkapnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads