Jajaki Kerja Sama, Bos Pelindo Sambangi Operator Pelabuhan Besar Australia

Laporan dari Australia

Jajaki Kerja Sama, Bos Pelindo Sambangi Operator Pelabuhan Besar Australia

- detikFinance
Senin, 02 Mar 2015 09:23 WIB
Jajaki Kerja Sama, Bos Pelindo Sambangi Operator Pelabuhan Besar Australia
Townsville - Pada September 2014, Kedutaan Besar Indonesia untuk Australia menggelar kegiatan forum bisnis bertemakan 'Indonesia Bussiness Potential at Your Door Step'. Salah satu yang dihasilkan adalah rencana kerja sama antara PT Pelindo II (Persero) dan Port of Townsville.

Rencana ini kemudian berlanjut dengan kedatangan perwakilan Port of Townsville ke Indonesia 2 bulan setelahnya. CEO Patrick Brady dan GM Claudia Brumme yang hadir kala itu melihat area dan sistem operasional Pelindo II di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Tiba gilirannya, Direktur Utama Pelindo II RJ Lino sekarang melakukan kunjungan balasan. Bersama beberapa staf, Lino bertemu dengan Wali Kota Townsville Jenny Hill dan operator pelabuhan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini merupakan bagian dari kunjungan balasan yang sebelumnya dilakukan oleh Pak Patrick karena kita ingin kerja sama ini menjadi nyata," ungkap Lino di Pelabuhan Townsville, Australia, Senin (2/3/2015).

Lino akan memaparkan secara umum rencana pemerintah Indonesia yang akan mengoptimalkan area laut. Di mana salah satu komponennya adalah pelabuhan sebagai penghubung jalur transportasi yang lebih efisien dari satu pulau ke pulau lainnya.

Ada beberapa proyek besar dalam pengembangan pelabuhan selain Tanjung Priok. Seperti pelabuhan di Surabaya (Jawa Timur), Makassar (Sulawesi Selatan), atau Sorong (Papua Barat).

Pelabuhan tersebut tidak hanya akan mendorong aktivitas perdagangan dalam negeri, tetapi juga internasional. Salah satunya ke Australia. Tercatat 11,4% perdagangan Australia adalah dengan Indonesia.

Townsville merupakan kota terbesar di Australia bagian utara. Pelabuhannya merupakan pintu gerbang utama untuk ekspor industri tambang, pertanian, dan peternakan. Termasuk ke Indonesia dengan komoditas terbesar, yaitu sapi dan gula.

Pelabuhannya berdiri di atas lahan dengan total 4.900 ha, meski baru dioptimalkan sekitar 300 ha. Pelabuhan ini memiliki 9 area sandar kapal untuk menangani barang 10 juta ton per tahun, perdagangan US$ 8 miliar, dan 1.525 pergerakan kapal.

"Kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antar pelabuhan sehingga lebih mengefisiensikan biaya ekspor dan impor yang sekarang masih tinggi," papar Lino.

Diketahui barang yang dikirim dari Townsville menuju Indonesia butuh waktu 24 hari. Sebab, kapal harus melewati China, Taiwan, dan Singapura sebelum akhirnya sampai ke Tanjung Priok.

"Waktu untuk perjalanan ke Indonesia bisa mencapai 24 hari, karena kita harus lewati beberapa negara," kata Claudia Brumme, General Manager Port of Townsville.

(mkl/hds)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads