Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan banyak faktor yang membuat harga beras naik tak wajar beberapa pekan lalu. Pemicunya tak disalurkannya raskin di akhir 2014, produksi beras yang belum masa puncak.
"Semua raskin harus dikeluarkan sebagaimana seharusnya, cadangan di Februari masih ada 160.000 ton, Maret 232.000 ton, operasi pasar dilakukan supaya normal, awal Maret dan April kita sudah mulai panen raya, saat itu harga beras akan normal kembali," kata Sofyan di kantor Kemenko, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (2/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kali ini produksi Insya Allah cukup meningkat, karena pemerintah memberikan bibit tepat waktu, pupuk tepat waktu, pemerintah membantu sumur bor karena irigasi tidak ada. Jadi cukup banyak intervensi pemerintah, hal-hal ini akan pengaruhi produksi," pungkasnya.
Sofyan menegaskan naiknya harga beras belakangan ini tak perlu dikaitkan dengan mafia beras. Kenaikan harga beras lalu karena pasokan dan permintaan yang tinggi akibat raskin tak tersedia di akhir tahun lalu.
"Saya nggak bicara mafia beras, saya bicara soal supply and demand, kenapa harga beras naik luar biasa? Atau tidak normal? yang kemarin naik tidak normal itu di Jakarta, karena kita kurang supply," ucapnya.
Ia menjelaskan, di bulan November dan Desember 2014, pemerintah tidak menyalurkan beras miskin ke masyarakat karena semua stok sudah digelontorkan pada awal 2014 sehingga di bulan November dan Desember 2014 kekurangan supplai beras.
"Raskin biasanya satu bulan 230.000-an ton tapi pada November dan Desember tidak di supply karena tidak ada jatah lagi di 2014. Sehingga kemarin berkurang supply 464.000 ton kemudian Januari baru dikasih 300 ribu ton padahal harusnya 464.000 ton, ini harus dikejar, jadi kemarin itu memang ada kekurangan supply ke pasar, itu yang sebabkan harga naik tidak wajar," jelasnya.
(drk/hen)











































