Komunikasi antara kedua belah pihak terlihat semakin spesifik. Ada beberapa rencana strategis dipersiapkan usai penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) yang direalisasikan dalam waktu dekat.
Salah satunya adalah terkait rute kapal yang akan dilewati selepas berlayar dari pelabuhan townsville. Lino menawarkan Pelabuhan Sorong (Papua Barat) sebagai lokasi transit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekarang, lanjut Lino, kapal yang keluar dari Pelabuhan Townsville harus ke Brisbane atau Sidney. Kemudian barang dipindahkan ke kapal besar untuk menuju China atau Taiwan sebelum berlanjut ke Singapura dan Indonesia.
"Karena kapal besar nggak singgah di sini (Townsville) dan domestic transport di Australia itu mahal sekali," sebutnya.
Lino menuturkan, biaya angkut menggunakan kereta api ke Brisbane dengan jarak sekitar 1.000 km adalah sekitar AU$ 1.800 atau sekitar Rp 18 juta. Nominal tersebut menurutnya sangat mahal.
"Paling murah mereka kirim dari sini ke Sorong, nanti kapal besar dari Australia dari bawah (selatan) mau ngambil barang Townsville itu ngambilnya ke Sorong. Karena itu adalah international shipping," jelasnya.
"Kenapa menjadi lebih murah? Sebab semua pelayaran itu kan ke atas (utara). Jadi kalau ke bawah dulu pasti mahal sekali," sambungnya.
Pemilihan kerja sama dengan Port of Townsville, tambah Lino, karena pelabuhan ini memegang peranan ekspor terbesar di Australia. Yaitu mencapai 58% dari total ekspor. Khususnya produk sapi, timah hitam, gula, nikel, pupuk, semen, dan lainnya.
"Ini kan pelabuhan yang nilai ekspornya paling tinggi di Australia," tukasnya
Sorong juga akan menjadi pelabuhan utama di wilayah Timur Indonesia. Kapal dari Makassar, Ambon, dan Halmahera yang ingin melakukan ekspor atau impor bisa melewati Sorong.
"Sorong akan menjadi pusatnya Indonesia Timur. Jadi barang ke Jayapura, Merauke, Ambon, Halmahera, Ternate itu ke Sorong dulu," terang Lino.
(mkl/hds)











































