Namun, kota Townsville ternyata benar-benar ada. Letaknya di bagian utara Australia. Dibandingkan Darwin, Perth, atau Brisbane, kota ini memang kurang tenar. Padahal Townsville adalah satu pintu gerbang ekspor terbesar Negeri Kanguru.
Sebagai pintu gerbang, Townsville ditopang dengan pelabuhan yang luar biasa. Bayangkan, lahannya saja mencapai 4.900 hektar. Sekitar 8 kali dari luas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiba di bandara Townsville, suasana memang agak berbeda dibandingkan kota besar lainnya. Tidak banyak pesawat yang parkir, begitu pula pengunjung yang datang. Cuacanya panas, bisa mencapai 32 derajat celcius.
Kota Townsville tampak lengang dan tak ada kemacetan. Sepanjang kiri dan kanan jalan banyak bangunan seperti kantor pemerintahan, bank, toko, swalayan, dan restoran.
Mungkin untuk membayangkan Pelabuhan Townsville disarankan agar tidak mengingat apalagi sampai membandingkannya dengan kondisi pelabuhan di Indonesia. Pelabuhan Townsville tertata sangat rapi.
Sebelum memasuki area inti pelabuhan, mata disajikan lebih dulu area pantai, taman, cafe, museum, hotel, hingga tempat judi. Areanya pun sangat bersih dan cukup terjaga dari berbagai polusi.
Bila ingin sampai ke dermaga, maka pengunjung harus memasuki kantor administrasi. Ada pengecekan biodata terlebih dulu serta menjawab beberapa pertanyaan tentang keperluan menuju dermaga. Pengunjung akan dibantu oleh beberapa staf dari pelabuhan.
Dari total area pelabuhan, yang baru dioptimalkan untuk aktivitas ekspor-impor baru sekitar 300 ha. Meliputi kantor administrasi dan teknisi, kantor pengontrol pelabuhan, tempat sandar kapal, bongkar muat, serta penyimpanan peti kemas.
Kemudian ada pula gudang penyimpanan gula, semen, nikel, timah hitam, dan lainnya. Termasuk juga akses jalan dan rel kereta api yang sangat baik untuk keluar dari pelabuhan.
"Kita menata setiap area sesuai dengan kebutuhannya. Kita sesuaikan dengan setiap produk yang akan diekspor," ujar CEO Port of Townsville Limited Patrick Brady.
Pelabuhan ini sangat mengandalkan kecepatan. Terdapat sistem yang mampu memastikan setiap barang yang diantarkan ke pelabuhan harus sudah tersedia kapal untuk mengangkutnya sehingga tidak ada penumpukan barang.
Barang yang dibawa ke pelabuhan bisa menggunakan truk dan kereta api. Menurut Brady, transportasi yang digunakan cukup efisien dan mendorong terciptanya kecepatan dalam pengiriman.
"Lokasi pengiriman barang menuju pelabuhan memang tidak terlalu jauh. Namun tetap disediakan akses yang mendorong kecepatan," jelasnya.
Untuk komoditas gula, disediakan tempat penyimpanan dengan teknologi canggih. Pelabuhan menyediakan jalur untuk gula dapat dimasukkan ke kontainer tanpa menganggu area lainnya.
Fasilitas sandar kapal yang tersedia adalah 9 unit. Unit 1 untuk minyak dan gas, unit 2 dan 3 untuk hasil tambang dan peternakan, unit 4 untuk semen, unit 8 untuk barang lainnya, unit 9 untuk gula, unit 10 untuk mesin dan kendaraan bermotor, serta unit 11 untuk konsentrat seperti seng dan timah hitam.
Pelabuhan juga memiliki ruang kontrol yang sangat canggih. Ruangan ini dapat memantau setiap pergerakan kapal yang keluar dan masuk dari pelabuhan, khususnya untuk area utara Australia.
"Kita tidak menggunakan banyak orang untuk bekerja di sini. Karena lebih baik menggunakan teknologi yang sangat bisa membantu kecepatan," kata Brady.
(mkl/hds)










































