Survei: 37% Responden Anggap Lonjakan Harga Beras Karena Permainan Mafia

Survei: 37% Responden Anggap Lonjakan Harga Beras Karena Permainan Mafia

- detikFinance
Rabu, 04 Mar 2015 11:00 WIB
Survei: 37% Responden Anggap Lonjakan Harga Beras Karena Permainan Mafia
Jakarta - Melambungnya harga beras secara tidak wajar dalam beberapa hari terakhir ini diduga sebagai akibat kesalahan manajemen distribusi pemerintah. Namun ada juga persepsi publik (responden) bahwa kenaikan harga beras juga ada faktor permainan mafia beras.

Demikian hasil polling yang dilakukan oleh Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) Rabu (4/3/2015).

Dari polling online tersebut, yang dilakukan sejak 2 Maret pukul 00.00 WIB sampai 3 Maret 2015 jam 17.00 WIB, kesalahan manajemen distribusi adalah aspek yang paling banyak dipilih responden.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain kesalahan manajemen sebanyak 43,8% responden, tiga aspek lain yang diduga sebagai penyebab kenaikan harga beras tersebut adalah 'permainan mafia' yang mencapai 37,7% responden, lalu alasan mundurnya masa panen mencapai 12,7% responden, serta kegagalan pemerintah menjaga kestabilan harga capai 5,7% responden.

Keempat aspek tersebut diambil dari pesan komunikasi presiden, wakil presiden, dan sejumlah pengamat yang terliput media saat menyikapi masalah tersebut. Jumlah responden polling tersebut adalah 406 responden.

"Sebagai catatan, ada perbedaan cara komunikasi politik antara SBY dan Jokowi menyikapi kenaikan harga beras. SBY selama 2011-2012 langsung memerintahkan jajarannya untuk segera menstabilkan harga, sedangkan Jokowi memandang ini adalah permainan mafia yang menginginkan pemerintah kembali mengimpor beras," kata juru bicara Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai KOPI), yang juga Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio.

"Apa yang ditemukan dari polling kami tersebut mencerminkan opini publik, sebagai masukan kepada pemerintah," katanya.

(hen/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads