Bahan baku tempe dan tahu, yaitu kedelai untuk industri tempe dan tahu saat ini mayoritas masih diimpor dari AS dan Brasil. Kurs dolar yang menguat membuat biaya produksi lebih tinggi karena ada kenaikan harga kedelai akibat kenaikan kurs.
Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tempe-Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syafruddin mengatakan, pengusaha tempe dan tahu di Indonesia mau tidak mau harus memutar otak agar usahanya terus berjalan di tengah harga bahan baku kedelai yang makin mahal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aip mengatakan, dengan kondisi pelemahan rupiah terus berlanjut, maka harga kedelai diperkirakan akan naik hingga 10%,. Harga impor kedelai impor saat ini berkisar US$ 500 per ton.
"Nanti harga produknya pun diperkirakan bakal naik segitu 10%," katanya.
Hingga kini Aip mengatakan, mau tidak mau industri tempe dan tahu dalam negeri harus bergantung pada impor kedelai. Alasannya produksi dalam negeri sangat tidak mencukupi kebutuhan industri tahu tempe.
Menurutnya kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,5 juta ton per tahun. Sebanyak 1,8 juta ton atau 75% dipasok dari luar negeri karena produksi dalam negeri maksimal hanya menembus 800.000 ton.
"Jangan sampai langka itu. Kasihan jutaan pengrajin tempe tahu di Indonesia itu bakalan teriak. Yang aktif 1,5 juta orang perajin tempe tahu. di seluruh Indonesia," tutupnya.
(zul/hen)











































