"Menuju ke sana (beroperasi 24 jam), bukan tidak mungkin," kata Direktur Utama KAI Edi Sukmoro saat diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2015).
Jika pengoperasian kereta 24 jam, KAI akan menghitung banyak aspek seperti konektivitas transportasi di sekitar stasiun hingga ketersediaan pasokan listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertimbangan lain, perseroan merupakan badan usaha yang tetap harus menghitung keuntungan. Artinya aktivitas pengguna KRL kerap dipakai untuk aktivitas berangkat dan pulang kerja. KAI akan membuka layanan kereta hingga larut malam mengikuti permintaan pengguna jasa.
"Jangan lupa KAI ini PT lho. Jadi manakala memang di situ tidak banyak penumpang yang diangkut, ya kita harus ringkas. Kita harus berpikir seperti itu juga. Tetapi kita tetap tidak meninggalkan pelayanan publiknya," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Edi menjelaskan target mengejar daya tampung KRL hingga 1,2 juta penumpang per hari tahun 2019. Saat ini pengguna KRL mencapai 700.000 penumpang. Untuk mengejat itu, KAI akan menambah jumlah armada. Tahun ini saja, perseroan mendatangkan 120 unit KRL.
"Untuk tahun ini kita akan mendatangkan 120 gerbong lagi. Kenapa ini gradually secepatnya, karena keinginan 1,2 juta penumpang juga harus ditopang," ujarnya.
(feb/ang)











































