Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Handaka Santosa mengatakan selain itu, para pedagang atau distributor pakaian bermerek (branded) masih menjual pakaian dari stok lama yang dibeli berdasarkan kurs yang masih murah. Saat ini harga barang mermerek seperti pakaian, tas, dan sebagainya masih dijual dengan harga lama.
"Ini dolar Rp 13.000, belum mempengaruh pada harga jual, ini kan baru sepekan. Tentunya akan baru berimbas pada harga jual untuk stok pembelian baru," kata Handaka kepada detikFinance, Selasa (10/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, persaingan juga datang dari penjual pakaian merek di luar negeri khususnya di Singapura.
"Ada beberapa kendala kita, kalau menaikkan harga sekarang. Persaingan kita dengan Singapura, sekarang tiket ke sana Rp 300.000, ritel kita sekarang berat," katanya.
Ia mengatakan pasar pakaian bermerek di dalam negeri sangat terbatas, karena asumsinya konsumen akan membeli produk sesuai dengan segmen masing-masing. Meski pasar pakaian bermerek adalah kalangan atas, namun bila ada kenaikan maka secara alami konsumen akan mencari pilihan lain yang lebih murah seperti belanja ke Singapura.
"Kami mengharapkan dolar segera bisa turun," kata Handaka.
(hen/hds)











































