Potret Pegawai Kantoran di Jepang yang Biasa Kerja 13 Jam Sehari

Potret Pegawai Kantoran di Jepang yang Biasa Kerja 13 Jam Sehari

- detikFinance
Kamis, 12 Mar 2015 06:56 WIB
Potret Pegawai Kantoran di Jepang yang Biasa Kerja 13 Jam Sehari
Foto: Reuters
Jakarta - Anda pernah merasa pekerjaan di kantor begitu berat? Mungkin Anda masih perlu bersyukur, karena ada orang yang bekerja 13 jam sehari, 6 hari seminggu, selama 3 bulan berturut-turut.

Di Jepang, itu lah jam kerja para pegawai kantoran. Fenomena ini didokumentasikan oleh orang asing bernama Stu yang bekerja di Jepang. Video ini diunggah (upload) di YouTube dengan judul 'Stu in Tokyo'. Demikian dikutip dari CNN, Rabu (11/3/2015).

Dalam video tersebut, Stu menceritakan sebuah pekan bagi para pekerja kantoran di sektor jasa keuangan. Dia memilih periode Januari-Maret, yang merupakan saat-saat di mana pekerjaan menumpuk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap harinya, setelah hanya tidur beberapa jam, Stu dengan terburu-buru berangkat ke tempat kerja. Dia berada di kantor rata-rata 13 jam per hari.

Pekerjaan baru selesai sekitar pukul 23.00, dan Stu lagi-lagi harus bergegas agar tidak ketinggalan kereta. Tiba di rumah, isirahat, dan siklus yang sama terus berulang.

Dalam 6 hari, Stu bekerja selama 78 jam dan tidur 35 jam. Padahal dalam 6 hari hanya ada 144 jam, artinya lebih dari separuh kehidupan Stu dihabiskan untuk bekerja.

Stu hidup layaknya pekerja kantoran di Jepang pada umumnya. Pekerja kantoran ini adalah tulang punggung perekonomian Negeri Matahari Terbit, dan seringkali menempatkan pekerjaan di atas keluarga.

Meski begitu, sepertinya mereka tetap menikmati hidup. Pulang larut malam, para pekerja ini masih rutin minum-minum bersama sahabat atau klien. Mereka pun merasa tidak perlu dikasihani.

"Saya tidak perlu mendapat simpati. Ketika saya bekerja, saya sudah tahu akan ada saat-saat pekerjaan begitu menyibukkan," kata Stu.

Selepas Maret, Stu menyebutkan pola kerja akan kembali normal. Tidak ada lagi pulang jam 11 malam dan bekerja selama 6 hari dalam sepekan. Namun Stu masih beruntung, karena begitu banyak orang di Jepang yang bekerja begitu keras sepanjang tahun.

"Ada banyak orang di Tokyo yang bekerja seperti ini sepanjang tahun demi menopang hidup keluarganya. Saya tidak bisa membayangkan bila harus melakukannya," tutur Stu.

Namun, secercah harapan muncul bagi para pekerja di Jepang. Perdana Menteri Shinzo Abe tengah memperjuangkan aturan untuk menghapuskan uang lembur bagi para pekerja yang bergaji 10 juta yen (Rp 1,08 miliar) per tahun. Tujuannya, tanpa uang lembur maka karyawan akan pulang lebih cepat.

(hds/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads