"Business summit ini kita lakukan pada 21 April, sebelum digelarnya konferensi Asia-Afrika di Bandung setelah 55 tahun lalu," ujar Wakil Ketua Kadin sekaligus Ketua Panitia Asia-Afrika Business Summit, Noke Kiroyan, ditemui di Kantor Kadin Pusat, Rasuna Said, Jakarta, Jumat (13/3/2015).
Noke mengatakan, selama ini konferensi yang digelar biasanya hanya membahas permasalahan politik dan ekonomi dalam level permukaan saja. Tapi, setelah konferensi selesai, semuanya bubar dan tidak ada tindak lanjut apa-apa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam acara tersebut, nantinya antara pengusaha Indonesia dengan pengusaha di Asia dan Afrika akan bertemu langsung. Sehingga, diharapkan akan terjadi kerjasama bisnis.
"Kalau investasi baru sepertinya sulit, tapi kita tujuannya peningkatan perdagangan. Selama ini sudah ada, tapi kita perbanyak lagi," ucap Noke.
Selama ini, produk-produk dagang Indonesia sudah cukup banyak yang masuk ke Afrika. Paling banyak adalah mie instan, yang jumlah permintaannya terus meningkat. Walau dirinya tidak bisa mengungkapkan berapa jumlah nilai perdagangan Indonesia-Afrika per tahunnya.
"Tapi kita ingin dorong lebih lagi, terutama di sektor pertanian atau agrobisnis, sektor matirim, dan infrastruktur. Kita bisa jual alat-alat pertanian di sana, kita bisa tingkatkan ekspor ikan, dan banyak lagi," ungkapnya.
Sementara, dari sisi pengusaha Afrika sendiri, paling potensial adalah perdagangan kapas. Di negara-negara Benua Hitam tersebut, produksi kapasnya cukup tinggi. Sementara di Indonesia tidak ada produksi kapas sama sekali.
"Paling potensial kapas, karena kita butuh sekali," tutup Yoke.
(rrd/dnl)











































