Ekonom dari IPMI International Business School Jimmy M Rifai Gani menilai pelemahan nilai tukar rupiah dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia termasuk UKM. Pasalnya, harga produk Indonesia menjadi relatif lebih rendah terhadap dolar AS.
Jimmy mengatakan pelaku usaha tidak serta-merta dapat memanfaatkan kondisi tersebut. Selain harga/biaya (price/cost), ada tiga komponen lain dalam faktor daya saing yaitu kualitas (quality), kecepatan dan ketepatan waktu pengiriman barang (delivery), serta layanan purna jual (services).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan spabila produk ekspor asal Tanah Air belum mampu bersaing dengan negara-negara lain dari sisi kualitas, Jimmy yang menjabat sebagai Executive Director dan CEO IPMI itu menambahkan, pelaku usaha domestik dapat mendongkrak tingkat kecepatan pengiriman produk atau layanan purna jual.
"Ada konsumen yang loyal karena service yang bagus atau berani bayar mahal demi delivery cepat dan tepat waktu. Pelaku usaha mesti fokus menentukan diferensiasi produk supaya bisa bersaing dengan kompetitor dari negara-negara lain," jelasnya.
Ia menyarankan agar pemerintah menginisiasi pembentukan institusi atau lembaga yang mengurusi peningkatan daya saing yang mampu melakukan kolaborasi lintas sektor. Gunanya untuk menghadapi pasar bebas ASEAN yang sudah di depan mata.
"Jadi sekarang tergantung kita dalam menyikapi pelemahan rupiah ini, apakah akan ikut terpuruk atau malah menjadikannya peluang? Pemerintah tidak boleh tinggal diam melihat usaha kecil dan menengah (UKM) kalah bersaing di pasar global karena rendahnya quality, cost, delivery, dan service atau QCDS," katanya.
(drk/hen)











































