Dikutip dari CNN, Senin (15/3/2015), harga minyak yang rendah dan sanksi dari negara-negara Barat menghambat perekonomian Rusia. Bahkan dalam 6 bulan terakhir, mata uang rubel melorot sampai 40% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Akibat embargo produk-produk kebutuhan pokok dari AS dan sekutunya, inflasi Rusia pun meroket. Pada Februari 2015, inflasi Rusia mencapai 16,7%. Harga bahan makanan naik 23% dibanding setahun sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa waktu terakhir, bank sentral Rusia membuat kebijakan yang radikal. Pada Desember 2014, suku bunga acuan dinaikkan dari 11,5% menjadi 17% untuk mendorong penguatan rubel. Namun sebulan setelah itu diturunkan lagi menjadi 15% dan bulan ini turun kembali menjadi
Langkah ini terbukti mampu membuat rubel lebih stabil. Namun bank sentral Rusia memperingatkan bahwa resesi belum usai.
(hds/dnl)










































