Ini Dia Para Bos yang Tengah Duduk di 'Kursi Panas' (2)

Ini Dia Para Bos yang Tengah Duduk di 'Kursi Panas' (2)

- detikFinance
Kamis, 19 Mar 2015 08:40 WIB
Ini Dia Para Bos yang Tengah Duduk di Kursi Panas (2)
Jakarta - Menjadi orang nomor satu di perusahaan punya tingkat stress tinggi. Selain faktor internal, faktor eksternal seperti kritikan dari pemegang saham atau konsumen pun cukup membuat para CEO 'panas-dingin'.

Bahkan untuk chief executive officer (CEO) di perusahaan tertentu, tingkat stressnya jauh lebih besar. Apalagi, jika perusahaan melakukan kesalahan, pasti CEO yang disalahkan.

Beberapa waktu belakangan ini, bos-bos besar tersebut tengah mengalami tantangan yang sangat berat dalam bisnisnya. Siapa saja mereka? Berikut ini daftarnya seperti dikutip dari CNBC. Kamis (19/3/2015).



CEO Intel Brian Krzanich

Intel sudah memprediksi pendapatan kuartal pertama perusahaan akan mengecewakan. Perkiraan tersebut bahkan jauh lebih rendah dari apa yang diprediksi Wall Street.

Intel memprediksi pendapatannya hanya akan mencapai US$ 12 miliar, sedangkan Wall Street agak lebih tinggi yakni US$ 13,2 miliar.

Intel menduga, ini disebabkan karena permintaan yang sangat rendah pada bisnis upgrade komputer, kondisi makro ekonomi yang semakin menantang, dan pelemahan mata uang di Eropa. Namun, semua orang juga tahu, bisnis ini semakin surut karena adanya ponsel pintar.

"ini karena ponsel," kata Jim Cramer. Manager keuangan ini pun mengklaim bahwa 55% penduduk dunia tak bisa hidup tanpa ponsel. Bukan tugas yang mudah bagi CEO Intel untuk menjalankan bisnis dalam kondisi ini.

CEO IBM Virginia Rometty

Belakangan ini, Rometty tak lagi meneruskan catatan target keuntungan pendahulunya di IBM. Perusahaan tercatat mengalami penurunan keuntungan 10 kuartal berturut-turut. IBM padahal sudah melepaskan diri dari kinerja yang buruk, namun tetap tak bisa mengimbangi tuntutan para investornya. Butuh waktu lama untuk mencapai pertumbuhan yang diharapkan investor.

"Sangat sulit untuk mendapatkan pertumbuhan yang signifikan, mereka harus memutar otak untuk meningkatkan nilai saham seperti yang dinginkan pemegang saham," katanya.

CEO Uber Travis Kalanick

Uber ternyata tidak begitu hebat di mata investornya. Uber saat ini bernilai US$ 41 miliar setelah mendapatklan suntikan dana sebesar US$ 1,2 miliar pada Desember lalu. Namun perusahaan tengah berharap ingin disukai layaknya Facebook. Itu sebenarnya meminimalisir peluang kesalahan. Namun, hal itu malah membuat perusahaan berada di bawah tekanan para investor.

CEO Yahoo Marissa Mayer

Saham perusahaan ini nilainya naik lebih dari dua kali lipat setelah diambil alih kepemimpinannya oleh Mayer. Namun masalahnya, banyak kredit malah pergi ke Alibaba. Dan banyak tanda tanya besar muncul yang menyebut bagaimana rencana Mayer untuk mengembalikan merek inti dan meningkatkan penjualan iklannya. Secara year to date, sahamnya anjlok dobel digit.

CEO GE Jeff Immelt

Immelt telah mengembalikan kinerja keuangan perusahaan yang memburuk pada saat krisis finansial, dan membawa GE kembali pulih. Dia melakukan hal seperti membuat mesin, alat kesehatan dan pembangkit listrik. Naum sebenarnya, Immelt melepas asset non inti dari perusahaan, seperti kartu kredit dan perusahaan, dan mengalihkannya ke sektor lain seperti minyak dan gas. Saat-saat tersebut dianggap sebagai "hari terakhir GE'

Setelah akuisisi perusahaan minyak dan gas sebesar US$ 10 miliar, hari terakhir GE sekarang tengah dipantau. Investor menginginkan lebih banyak lagi unit finansial yang dijual. Dan investor juga menuntut Immelt untuk melakukan berbagai cara untuk mengembalikan sahamnya di atas 30%.
Halaman 2 dari 6
(zul/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads