Ketua Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hendroyono ikut bersedih harga beras bisa naik.
"Perberasan Indonesia, sebulan yang lalu diramaikan harga beras, kurang 1 bulan harga melonjak 30% dan langka. Kita belum mampu membenahi benang kusut dan beberapa pihak saling melontarkan pendapat, seperti mafia beras, dan prasangka lain yang mengaburkan ini. Kita semua ikut bersedih atas masalah ini," papar Hendroyono saat diskusi terbatas 'Penguatan Perberasan Nasional', di Gedung Perum Bulog Jakarta, Kamis (19/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lalu tak sampai sebulan, harga beras stabil disebabkan 2 hal penting, yaitu operasi pasar melalui Perum Bulog dan musim panen sampai hari ini. Benarkah sudah selesai dan berhasil diatasi, atau solusi sementara?" katanya.
Menurutnya, ada sejumlah masalah di sektor perberasan nasional, salah satunya menyangkut data produksi. Menurut hitung-hitungan Hendroyono, di 2013 saja produksi beras mencapai 35 juta ton, dengan luas lahan sawah 7,8 juta hektar. Apabila konsumsi per kapita 121 kg/kapita/tahun. maka Indonesia harusnya surplus 5 juta ton.
"Apakah data ini kurang tepat dan ada persoalan lain yang belum diperhatikan seperti laju alih fungsi lahan," katanya.
Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia Dwi Andreas Santoso. Dia berpendapat, data produksi beras saat ini meragukan.
"Produksi kita di 2014 lalu 43,3 juta ton atau surplus 6,2 juta ton. Kalau dihitung sebenarnya tidak ada terjadi gonjangan harga seperti kemarin. Oleh karena itu kita menduga ada persoalan di data. Terkait data kita harus hati-hati karena deviasi di data internasional, data produksi beras kita sekitar 16%," jelasnya.
(wij/dnl)











































