RI Harus Manfaatkan Jepang, China, dan AS Jika Ingin Maju

RI Harus Manfaatkan Jepang, China, dan AS Jika Ingin Maju

- detikFinance
Selasa, 24 Mar 2015 12:40 WIB
RI Harus Manfaatkan Jepang, China, dan AS Jika Ingin Maju
Ilustrasi (Foto: dok.detikFinance)
Jakarta - Indonesia sebenarnya memiliki posisi yang menguntungkan di tengah perubahan kondisi negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, China, dan India.

Edimon Ginting, Wakil Kepala Perwakilan ADB untuk Indonesia menjelaskan, AS sekarang dalam posisi ekonomi yang membaik. Ekonominya tumbuh di tengah negara lain yang merevisi proyeksi perekonomian ke depan.

Kondisi ini tentunya membawa AS lebih banyak mengkonsumsi barang dibanding biasanya. Indonesia bisa mengandalkan produk seperti pakaian, alas kaki dan tekstil lainnya untuk ditingkatkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Melihat porsi tersebut, AS masih menjadi negara tujuan ekspor pertama RI," ujarnya dalam diskusi Asian Development Outlook 2015 di Hotel Intercontinental, Jakarta, Selasa (24/3/2015)

Kemudian China. Pelemahan ekonomi yang terjadi pada negari tirai bambu itu menggeser kebiasaan sebagai produsen menjadi konsumen. Inflasi semakin tinggi, artinya harga barang di China lebih mahal dari sekarang.

Artinya, kata Edimon ada peluang produk Indonesia masuk ke pasar China dengan lebih kompetitif. Apalagi dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang tengah terjadi.

"Kondisi China yang beralih menjadi konsumen, adalah peluang Indonesia," paparnya.

Selanjutnya adalah Jepang. Kelemahan negeri Sakura terletak pada tenaga kerja yang semakin tua. Dari data ketenagakerjaan Jepang, terlihat penurunan produktivitas akibat usia pekerja yang tak lagi muda.

"Bila seperti itu, Jepang akan mencari negara dengan produktivitas tinggi untuk investasi," imbuhnya.

India juga termasuk bidikan ekspor Indonesia. Terutama untuk produk crude palm oil (CPO). India dengan ekonomi yang terus tumbuh berpengaruh terhadap tingginya permintaan.

"CPO masih akan diperlukan India dan itu adalah produk olahan. Sangat bagus bagi perbaikan fundamental Indonesia," tukasnya.

Dengan demikian diperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (cad) pada 2015β€Ž adalah sebesar 2,8% terhadap PDB. Lebih rendah dibanding 2014 yang sebesar 2,9%.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads