Kejadian ini menuai perdebatan. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti serta Satgas Anti Illegal Fishing meminta agar kapal terbesar yang diduga melakukan pencurian ikan ini dituntut hukuman yang lebih berat, misalnya ditenggelamkan.
Pihak Kejaksaan Tinggi Maluku melalui siaran tertulis yang diterima detikFinance, Selasa (24/3/215), mencoba memberikan klarifikasi. Kepala Seksi Penkum dan Humas Kejati Maluku Bobby Palapia menyampaikan, masyarakat perlu mengetahui bahwa tim Jaksa Penuntut Umum telah melakukan penuntutan kasus kapal MV Hai Fa sesuai dengan aturan dan perundangan yang berlaku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Bobby menjelaskan bahwa terkait Surat Layak Operasi yang tidak diterbitkan oleh Pengawas Perikanan sedangkan Surat Persetujuan Berlayar yang diterbitkan oleh Syahbandar justru sudah dikantongi. Padahal Surat Layak Operasi merupakan bagian tak terpisahkan dari SPB atau Surat Persetujuan Berlayar.
Pihak penyidik Lantamal sudah berulang kali meminta saksi ahli dari pihak Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk memberikan keterangan sekaligus masukan bagi Jaksa Penuntut Umum. Namun hingga perkara ini sampai pada proses penuntutan, tim ahli dari Kementrian Kelautan dan Perikanan tak kunjung hadir.
"Berbagai fakta persidangan juga telah disampaikan oleh tim Jaksa Penuntut Umum pada Satgas yang dipimpin oleh Yunus Husein saat hadir di Ambon beberapa hari yang lalu. Jadi agak membingungkan jika Menteri Susi berang dengan tuntutan pihak kejaksaan," kata Bobby.
Akhir Desember 2014 lalu, Patroli Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama TNI-AL berhasil mengamankan kapal raksasa berbendera Panama, MV Hai Fa ketika merapat di pelabuhan Wanam, Merauke.
Bobby pun menyampaikan pesan Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, Chuck Suryosumpeno yang meminta agar seluruh pihak mampu menahan diri seraya menghormati hukum dan proses peradilan yang sedang berlangsung.
"Penegakan hukum harus bebas dari intervensi dan tekanan dari pihak mana pun," katanya.
(hds/ang)











































