Pertumbuhan tingkat okupansi ini disebut akan terus naik, seiring dengan adanya rencana perpanjangan runway atau landasan Bandara Blimbingsari, dari 1.800 meter menjadi 2.250 meter pada tahun ini.
Vice President Region III Garuda Indonesia, Flora Izza menuturkan, rute penerbangan rute pendek ke atau dari Banyuwangi dengan menggunakan pesawat ATR 72-600 kapasitas 70 seat tersebut, kini sedang dievaluasi oleh timnya. Pilihannya yaitu, mengganti jenis pesawat dengan menaikkan kapasitas pesawat menjadi 96 seat, atau menambah frekuensi jam terbang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa langkah evaluasi ini, menurut Izza tak hanya berlaku bagi Banyuwangi saja, namun juga berlaku di seluruh wilayah yang dipimpinnya. Seperti di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara supaya bisa terus meningkatkan jaringan penerbangannya di dalam negeri, dan meningkatkan konektivitas antar kota di regional. Upaya ini juga diharapkan mempercepat peningkatan perdagangan dan perekonomian di kawasan, melalui kemudahan akses transportasi udara.
Untuk itu, Garuda berharap, perekonomian di Banyuwangi bisa terus bertumbuh, berbarengan dengan tingkat hunian perhotelan. Bila ini terjadi, maka bisa menjadi rangsangan bagi Garuda untuk melakukan penetrasi pasar dan pengembangan bisnis yang lebih luas.
"Kami juga siap secara cepat dan efisien seiring semakin meningkatnya perdagangan dan perekonomian antar kota-kota tersebut. Kami yakini potensi sasaran Garuda di Banyuwangi akan semakin terbuka seiring pertumbuhan perekonomian dan perhotelan," imbuhnya.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menambahkan, pertumbuhan pembangunan Bandara Blimbingsari, Banyuwangi ini tak lepas dari dukungan pemerintah pusat dan rakyat Banyuwangi. Pembangunan pesat dengan konsep bandara berbasis ramah lingkungan ini juga dinilai berjalan sesuai dengan jangka waktu tak lebih dari lima tahun.
"Tak lebih dari lima tahun pengembangan Bandara ini diapresiasi dan ini direncanakan sesuai on the track," pungkasnya.
(dnl/dnl)











































