Saat ini, tercatat sebanyak 760.000 warga DKI Jakarta dan sekitarnya memanfaatkan moda transportasi massal berbasis rel tersebut setiap harinya. Angka ini terus merangkak naik.
KCJ punya beberapa strategi untuk mendorong masyarakat agar menggunakan trasportasi massal ini. Strategi pertama ialah menambah armada dan perjalanan kereta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang perjalanan kereta sampai 857 per hari. Tahun 2019 kita naikkan 2 kali lipat," kata Direktur Utama PT KCJ M. Fadhil kepada detikFinance (1/4/2015).
Selain menambah perjalanan dan armada, KCJ akan mempersingkat jarak antar kereta atau head way. Artinya jumlah penumpang yang menunggu di stasiun makin cepat terangkut karena kedatangan kereta semakin cepat.
"Dengan target 1,2 juta penumpang per hari. Nanti setiap 2 menit sekali kali bisa ada kereta. Misal kereta tujuan Bogor saat ini jarak antar kereta 5 menit nanti bisa 2 menit," ujarnya.
Di sisi stasiun, KCJ akan menambah fasilitas atau memperpanjang peron untuk menunggu kereta. Tidak hanya itu, KCJ akan menambah kapasitas parkir kendaraan di stasiun keberangkatan atau di daerah sumber penumpang berdomisili.
KCJ juga menggandeng pemerintah daerah tempat KRL beroperasi untuk penyediaan angkutan pendukung atau feeder.
Untuk mengamankan perjalanan kereta, KCJ akan menggandeng pemerintah daerah membangun fly over atau under pass di lintasan sebidang. Di dalam regulasi, tanggungjawab pengelolaan perlintasaan sebidang ada di pemerintah daerah.
"Kalau bicara UU, tidak ada perlintasan sebidang. Kalau ada, itu seharusnya tanggung jawab Pemkab ataupun Pemkot," sebutnya.
KCJ juga akan menambah rute-rute baru KRL. Mulai hari ini saja, KRL beroperasi untuk rute Nambo-Cibinong-Citayam-Duri. Ke depan, KCJ akan mengoperasikan KRL hingga Tambung dan Cikarang.
"Kita rencanakan pertengahan tahun sampai Tambung dan Cikarang. Peralatan kelistrikan sudah terpasang tinggal menunggu infrastruktur pendukung yang disediakan oleh Kemenhub," ujarnya.
(feb/ang)











































