DPR Kritik Soal Gula Impor, Menteri BUMN: Urusan Gula Rumit

DPR Kritik Soal Gula Impor, Menteri BUMN: Urusan Gula Rumit

- detikFinance
Senin, 06 Apr 2015 18:38 WIB
DPR Kritik Soal Gula Impor, Menteri BUMN: Urusan Gula Rumit
Jakarta - Para anggota Komisi VI DPR mempertanyakan soal kebijakan pemerintah kembali membuka impor gula mentah atau raw sugar yang dijadikan bahan baku industri gula rafinasi. Para menteri ekonomi menjelaskan soal persoalan gula termasuk Menteri BUMN Rini Soemarno.

Gula rafinasi yang bocor ke pasar konsumen merugikan petani dan pabrik gula nasional. Persoalan gula rafinasi juga telah berlangsung bertahun-tahun namun tak kunjung menemui solusi.

Di dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin menjelaskan gula rafinasi memang diperlukan untuk industri makanan minuman skala besar hingga kecil. Kebutuhan tahun 2015 saja mencapai 2,9 juta ton untuk gula rafinasi. Angka ini terus naik seiring naiknya angka konsumsi masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertanyaan banyak soal gula. Dari tahun ke tahun untuk kebutuhan gula naik terutama untuk industri makanan dan minuman trennya naik 6% per tahun. Tahun 2015 bahkan naik 9%. Dari kebutuhan gula keseluruhan kebutuhan 5,7 juta ton sebanyak 2,8 juta ton gula kristal putih dan kebutuhan rafinasi sekitar 2,9 juta ton," kata Saleh saat acara rapat kerja di Komisi VI DPR Senayan, Jakarta, Senin (6/4/2015).

Angka izin impor gula rafinasi dikeluarkan berdasarkan analisa tim independen. Penerbitan izin impor gula rafinasi dilakukan setiap 3 bulan sekali.

"Kami minta ke PT Suconfindo (surveyor) untuk kaji kebutuhan gula industri makan dan minum ternyata mencapai 2,8-2,9 juta ton," ujarnya.

Di tempat yang sama, Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel menilai persoalan pro kontra gula rafinasi harus dilihat secara jernih. Harga gula rafinasi yang lebih murah daripada gula kristal tebu petani, karena pabrik gula dalam negeri, yang mayoritas milik BUMN telah berusia di atas 100 tahun. Akibatnya produktivitas pabrik gula sangat rendah sehingga kalah bersaing dengan gula impor.

"Bukan gula tapi industri lain dinaikkan produktivitas dan kualitas. Saya sangat dukung anggota dewan untuk melindungi industri nasional. Tapi yang tidak produktif kita tutup. Yang penting bisa penuhi industri dalam negeri," ujarnya.

Gobel juga membenarkan adanya rembesan gula rafinasi. Hal ini akan dibenahi dan ditindak. Gobel juga menyoroti peran segelintir orang yang memainkan harga gula.

"Sekarang banyak gula dikuasai pedagang bahkan satu orang kuasai 40% peredaran gula. Dia mainkan harga gula saat ini," ujarnya.

Sedangkan Menteri BUMN Rini Soemarno memilih menjelaskan masalah gula secara tertulis karena persoalan dan solusi begitu komplek. Apalagi ia dan jajaran menteri akan menuju ke istana untuk menghadiri sidang kabinet.

"Urusan gula rumit. Kita berikan jawaban tertulis. Di sana ada program revitalisasi. Kami memang usulkan beberapa hal," tutur Rini.



(feb/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads