Rapat yang dimulai pukul 15.00 WIB berakhir pukul 21.00 WIB ini berlangsung relatif datar. Para anggota menggali tentang kinerja keuangan, operasi, perihal penentuan harga BBM dan gas, investasi hingga pengelolaan aset dua perusahaan pelat merah tersebut.
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menjelaskan perihal penentuan harga BBM memiliki berbagai perhitungan baku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dwi juga menjelaskan perihal pemanfaatan bahan bakar nabati atau biofuel. Penggunaan biofuel sempat turun karena harga Bahan Bakar Nabati lebih mahal saat harga minyak dunia menurun.
Akhirnya pemerintah mengambil kebijakan untuk membuat skema dana talangan jika harga biofuel lebih tinggi. Saat ini, pemerintah mewajibkan campuran 15% biofuel pada setiap BBM solar.
Dwi juga memberi keyakinan kepada anggota parlemen tentang pengambilalihan pengelolaan Blok Mahakam dari tangan Total E&P Indonesie ke Pertamina.
"Pertamina yakin bisa ambil dan kelola blok Mahakam," sebutnya.
Sementara itu, Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso menerangkan perseroan memang menghadapi persoalan di dalam pasokan gas. Akibatnya proses dan penjaminan untuk melakukan investasi pembangunan jaringan pipa gas sempat terhambat.
Maka dari itu PGN mengambil sikap dengan jalan mencari sumber-sumber gas di dalam dan luar negeri.
"Pasokan susah kita upaya dapat pasokan sendiri yakni investasi di beberapa lapangan di dalam negeri dan luar negeri," ujarnya.
Pimpinan Rapat Achmad Hafisz Tohir dari Fraksi PAN menjelaskan jawaban berbagai pertanyaan anggota DPR sebagian besar akan dijawab secara tertulis. Pada rapat kali ini hanya berupa pembahasan dan tidak ada kesimpulan.
"Kita putuskan rapat berikutnya. Maka sesuai peraturan DPR RI. Kita enggak beri kesimpulan," ujarnya.
(feb/ang)











































