Temuan Perbudakan di Benjina: Dianiaya Algojo Hingga Kena HIV

Temuan Perbudakan di Benjina: Dianiaya Algojo Hingga Kena HIV

- detikFinance
Senin, 13 Apr 2015 17:47 WIB
Temuan Perbudakan di Benjina: Dianiaya Algojo Hingga Kena HIV
Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendata perkembangan kasus perbudakan anak buah kapal (ABK) asing asal Myanmar, Kamboja, dan Laos oleh PT Pusaka Benjina Resources (PBR) di Benjina, Kepulauan Aru, Maluku.

Dari temuan fakta di lapangan, dan wawancara oleh para ABK asing, PBR jelas-jelas melakukan praktik perbudakan (slavery) dan perdagangan manusia (human trafficking).

Dari jumlah ABK asing yang dipekerjakan PBR yaitu 1.153 orang, 347 orang di antaranya sudah dipindahkan dari Benjina ke Tual, Maluku. Dari 347 orang, 281 orang berasal dari Myanmar, 58 orang dari Kamboja, dan 8 orang dari Laos.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Modus ada 3 yaitu perekrutan ABK non Thailand, diimingi gaji yang muluk di Thailand, lalu disuruh tandatangan kontrak kerja berupa klausul kosong," ungkap Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Asep Burhanuddin saat ditemui di Gedung Mina Bahari III, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Senin (13/04/2015).

Kemudian juga didapat fakta bila mayoritas ABK asing yang dipekerjakan berumur 19-20 tahun. Lalu para ABK juga tidak memiliki identitas resmi yang dikeluarkan masing-masing negara.

"Semua dokumen yang digunakan palsu dan seluruhnya menggunakan identitas Thailand," tambahnya.

Dari hasil wawancara juga ditemukan sejumlah fakta lainnya. Misalnya, terjadi diskriminasi gaji/penghasilan, yaitu ABK non Thailand Rp 1 juta/bulan, ABK Indonesia Rp 1,5 juta/bulan, dan ABK Thailand Rp 3 juta/bulan. Paling menyedihkan lagi adalah, kasus penganiayaan yang dilakukan oleh algojo. Asep menyebut salah satu algojo paling dikenal di Benjina adalah Yopi.

"Keselamatan mereka terancam kalau masih di Benjina. Ada 20 orang yang mengaku sudah dianiaya algojo. Kalau mereka sakit bukannya diobati malah disetrum. Kalau mereka ketiduran dipukul dan ada bukti-buktinya," papar Asep.

Lalu temuan terakhir adalah adanya ABK yang positif terjangkit HIV AIDS. Hal ini bisa terjadi diduga karena sikap kotor para ABK yang menggunakan jasa pekerja seks komersial di sekitar wilayah Benjina.

"Diperiksa di Tual ada 1 yang positif terjangkit HIV. Lebih ironis lagi mereka hanya membawa kantong kresek, hanya satu orang yang membawa travel bag dalam kondisi jelek, serta para ABK tersebut banyak meninggalkan utang di warung-warung sekitar PT PBR. Tercatat utang mencapai lebih dari Rp 5 juta. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dari sisi kesejahteraan ABK sangat tidak diperhatikan," jelas Asep.

(wij/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads