Apakah neraca perdagangan akan kembali positif pada April? Sasmito Hadi Wibowo, Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), mengatakan hal tersebut membutuhkan kerja keras.
"Saya tidak bisa mengatakan surplus lagi karena bulan sebelumnya sudah surplus terus. Kalau April bisa surplus bagus sekali, tapi perlu upaya besar," kata Sasmito kala ditemui di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"April sudah mulai (impor) untuk untuk memproduksi kebutuhan puasa-lebaran," ujarnya.
Tidak hanya itu, tambah Sasmito, proyek-proyek infrastruktur pemerintah juga memulai pengerjaan fisik pada bulan ini. "Makanya nanti akan ada impor besi dan baja," tuturnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, menurut Sasmito, neraca perdagangan mengalami defisit yang cukup besar pada April-Mei. Misalnya pada 2014, defisit neraca perdagangan mencapai US$ 1,97 miliar. Ini merupakan defisit terdalam pada 2014.
"Trennya lebih banyak April atau Mei itu impor untuk memenuhi kebutuhan puasa dan lebaran. Kalau lihat 2014-2013, defisit tertinggi di April dan Mei," sebut Sasmito.
Untuk meredam impor, kata Sasmito, maka ekspor harus digenjot. Indonesia punya harapan meningkatkan ekspor seiring pemulihan ekonomi di Amerika Serikat (AS). Saat ini, AS adalah pasar ekspor non migas nomor 1 bagi Indonesia.
"Kalau AS bagus pertumbuhannya, ekspor kita juga tinggi ke sana. Efeknya nanti akan terasa ke kita, akan terbantu," katanya.
Sasmito belum bisa memperkirakan kondisi neraca perdagangan April 2015. Namun dia menyebut meskipun surplus, sepertinya akan tipis saja.
"Mungkin kalau defisit kecil, kalau positif juga kecil," ujarnya.
(hds/hen)











































