Senator Tanya Soal Larangan Ekspor Bibit Bandeng, Ini Kata Menteri Susi

Senator Tanya Soal Larangan Ekspor Bibit Bandeng, Ini Kata Menteri Susi

- detikFinance
Kamis, 16 Apr 2015 14:56 WIB
Senator Tanya Soal Larangan Ekspor Bibit Bandeng, Ini Kata Menteri Susi
Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti diberondong pertanyaan oleh para senator anggota Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Mayoritas pertanyaan dari anggota senator untuk mengetahui fungsi dari kebijakan yang dikeluarkan Susi.

Semua pertanyaan tersebut dikumpulkan Ketua Komite II DPD Parlindungan Purba. Parlindungan menyatakan ada beberapa hal yang dipertanyakan seperti rencana pelarangan ekspor nener atau bibit bandeng, larangan kegiatan industri di wilayah 0-4 mil laut, larangan ekspor bibit dan lobster bertelur hingga larangan ekspor bibit kerapu.

Susi yang mengenakan baju serba ungu terlihat santai menanggapi pertanyaan satu per satu anggota senator. Pertama Susi menjawab soal rencana ia melarang ekspor bibit bandeng atau nener.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk nener tidak dilarang untuk diekspor. Tetapi sudah seharusnya nener ini dibudidayakan saja di Indonesia," kata Susi singkat di Gedung DPD Senayan, Jakarta, Kamis (16/04/2015).

Susi mengatakan daripada diekspor, lebih baik nener lebih diserap untuk kebutuhan dalam negeri. Nener tidak hanya berfungsi sebagai cikal bakal bandeng konsumsi tetapi sebagai makanan dan umpan ikan tuna.

"Nener bandeng belum dilarang tetapi kita akan bina petani tambak, kemudian kita siapkan juga menjadi pakan tuna," tambahnya.

Susi kembali menjawab pertanyaan larangan ekspor bibit kerapu. Menurut Susi pelarangan ekspor bibit kerapu hanya berlaku bagi UPT-UPT yang dimiliki Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Saya juga tidak melarang bibit kerapu diekspor, yang tidak boleh dari UPT," kata Susi.

Terkait pelarangan ekspor bibit dan lobster dalam keadaan bertelur, hal itu memang harus kita atur. Pasalnya ekspor losbter Vietnam sekarang justru jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Padahal bibit lobster yang dikembangkan di Vietnam berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Indonesia dulu ekspor lobster 3.000-6.000 ton sekarang hanya 300 ton. Vietnam dulu 300 ton menjadi 3.000 ton dan itu bibitnya dari Indonesia," tekan Susi.

Lalu Susi kembali menjawab pertanyaan terakhir soal rencana penutupan kegiatan operasional industri dan pertambangan di zona 0-4 mil laut. Meski belum dilakukan, cara ini memang sudah seharusnya dilakukan mengingat zona 0-4 mil laut adalah tempat yang baik bagi ikan berkembang biak.

"0-4 mil memang tidak seharusnya banyak industri beroperasi karena itu tempatnya ikan untuk berkembang biak. Intinya saya ingin menjaga profesi nelayan. Di Pantura (Pantai Utara) nelayan kepiting atau disebut nelayan pintur sudah tidak ada," jelas Susi.

(wij/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads