"Dalam tiga bulan tahun ini surplus mencapai US$ 2,4 miliar," ungkap Menteri Perdagangan Rahmat Gobel dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (16/4/2015).
Penyumbang surplus terbesar (Januari-Maret) adalah India, Amerika Serikat (AS), Belanda, Filipina, dan Uni Emirat Arab dengan total perdagangan non migas surplus US$ 6,1 miliar. Sedangkan negara yang menjadi penghambat surplus meliputi China, Thailand, Australia, Brasil, dan Korea Selatan dengan defisit US$ 6,7 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi ekspor, ada peningkatan signifikan ke 4 negara. Ekspor ke Taiwan tercatat naik 13,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian ekspor ke Vietnam naik 13,2%, Arab Saudi 13,7%, dan Swiss naik hingga 30 kali lipat.
Produknya adalah bijih, kerak, dan abu logam naik 93,8%, perhiasan naik 51,8%, tembaga naik 42,3%, dan alas kaki 17%.
Sedangkan impor, penurunan terbesar adalah dari Singapura (33,5%). Disusul Korea Selatan (22,7%), Jepang (12,6%), dan Malaysia (11,9%).
"Surplus ini harus dipertahankan. Terutama untuk mendorong neraca perdagangan serta perbaikan defisit transaksi berjalan ke depannya," sebut Gobel.
(mkl/hds)











































