Para pelaku usaha sedang mencari cara menggenjot nilai perdagangan Indonesia ke Benua Afrika. Saat ini, nilai perdagangan Indonesia-Afrika baru mencapai US$ 10,70 miliar atau lebih rendah dari China-Afrika US$ 200 miliar dan India-Afrika US$ 70 miliar.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengungkapkan, produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga harus dikedepankan untuk menggenjot nilai ekspor. Cara mudah yang bisa dilakukan adalah melalui perdagangan online alias e-commerce.
"Dengan situasi global saat ini yang mudah berkomunikasi, perlu adanya Asia Africa Trading atau konsepnya sama seperti Amazon," kata pria yang akrab disapa SBS itu saat berdiskusi di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/04/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi produk Asia-Afrika bisa melakukan itu (perdagangan online). Tinggal membangun platform, karena menyangkut sistem pembayaran. Jadi bisa diaktifkan agar UMKM bisa menawarkan produknya dan bisa diakses oleh seluruh negara Asia-Afrika," tuturnya.
SBS mengakui bahwa e-commerce di dalam negeri belum berjalan optimal. Padahal di luar negeri, mayoritas bisnis sudah dijalankan dengan sistem online.
Bagi SBS, Afrika adalah pasar segar yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh para pelaku usaha Indonesia. Pasar Afrika, terutama Nigeria dan Afrika Selatan, cukup besar.
Misalnya pendapatan per kapita penduduk Nigeria cukup besar yaitu US$ 3.500 dengan jumlah penduduk 135 juta orang. Sementara pendapatan per kapita Afrika Selatan jauh lebih besar yaitu US$ 6.500.
"Kita itu hanya kurang paham menyambut pasar Afrika. Mudah-mudahan kita bisa mengenal potensi negara-negara yang akan kita berikan perhatian lebih besar di Afrika. Kita tahu Afrika Selatan, Nigeria, Angola, Kongo, dan kita hanya perlu lebih banyak mengenali pasar itu, kalau bisa dengan kunjungan ke sana," jelas SBS.
(wij/hds)











































