Saat beroperasi, penumpang yang mayoritas akan menggunakan jasa angkutan udara bakal menjumpai sebuah transportasi antar terminal di Bandara Soekarno-Hatta.
PT Angkasa Pura II (Persero) selaku operator Bandara Soekarno-Hatta akan membuat moda transportasi massal yang menghubungkan terminal 1, 2 dan 3. AP II membuka opsi berupa pembangunan guided bus atau bus khusus yang berjalan di lintasan khusus. Konsep ini telah diterapkan pada bandara di Adelaide, Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andra menyebutkan AP II awal berencana memakai kereta monorel atau Automated People Mover System (APMS). Namun pemakaian moda ini kemudian dievaluasi karena dinilai terlalu mahal. Biaya yang diperlukan mencapai Rp 2,7 triliun. Apalagi AP II saat bersamaan sedang mengeluarkan banyak dana untuk pengembangan terminal.
"APMS saat studi awal butuh Rp 2,7 triliun. Itu kita review. Apakah pakai APMS atau moda lain. Kalau dibangun memang mahal karena kita juga sedang danai pengembangan terminal sekaligus," jelasnya.
AP II akan melakukan evaluasi, apakah bakal menggunakan monorel atau bus khusus. Bila hasil evaluasi ulang menunjukkan selisih harga antara kedua moda antar terminal itu sama maka AP II akan memutuskan tetap memakai monorel.
Selain membangun moda penghubung, AP II juga membangun stasiun khusus bandara untuk mendukung operasional KRL bandara. Penumpang KRL saat tiba di stasiun bandara nantinya akan disebar memakai moda transportasi bus khusus atau monorel.
Pembangunan moda transportasi penghubung terminal dan stasiun bandara tersebut akan selesai sebelum beroperasinya KA Bandara pada akhir 2016.
"Pokoknya selesainya sebelum KRL bandara beroperasi," jelasnya.
(feb/hen)











































