"Ternyata harga di sini masih rendah, masih di bawah HPP yang telah ditentukan. Ini tidak boleh dibiarkan, kita akan bertindak cepat agar Bulog segera menyerap gabah petani ini mulai dari penggilngan kecil dengan harga yang menguntungkan petani," ujar Amran, usai mengunjungi penggilingan padi Ngudi Makmur di Gangsiran Madurejo, Prambanan, Sleman dan penggilingan padi di Bowan Delanggu, Klaten, Jumat (24/4/2015).
Pada kunjungan itu, Amran berdialog dengan salah satu petani di lokasi penggilingan. Amran mendapat keluhan terkait rendahnya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah di kalangan petani, yang tidak sebanding dengan tingginya harga beras di pasaran. Menurut Amran, itu terjadi disebabkan terlalu panjangnya jalur distribusi dari petani ke masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anggap (harga di petani) Rp 6.000, di kota Rp 10.000 sampai Rp 11.000, dan Rp 4.000 sendiri dinikmati tengkulak. Hampir 80% mereka (tengkulak) dapat, tapi petani kita yang sehari-hari kepanasan cuma dapat 10-20%. Untuk memutus siklus ini, Bulog harus ambil peran agar mata rantainya tidak terlalu panjang," jelaasnya.
Amran berharap, Bulog bergerak cepat menyerap hasil petani, agar petani tidak harus berurusan dengan tengkulak dan pemodal yang bisa merugikan mereka. Karenanya, Amran akan terus mendorong Bulog lebih kreatif menyerap gabah masyarakat, di antaranya dengan menurunkan jaringan semut dan terjun langsung ke petani dan penggilingan beras rakyat
Saat ini Bulog baru mampu menyerap gabah dari petani di kisaran 300 ribu ton, masih jauh dari yang diarahkan Presiden Jokowi yaitu sebanyak 4 juta ton.
"Jangan sampai malah tengkulak yang bergerak cepat yakni dengan memberikan pinjaman modal, pupuk dan benih pada petani yang akhirnya nanti dapat merugikan petani. Karena, hasil panen petani dibeli dengan harga yang sangat rendah," kata Amran.
Menurut keterangan pihak Kementerian Pertanian, blusukan dilakukan Amran secara mendadak usai menghadiri penutupan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Pengecekan harga dilakukan tanpa menginformasikan pada pemerintah daerah dan masyarakat setempat, karena ingin memperoleh langsung informasi harga gabah di lapangan.
Sebelumnya, Amran juga telah melakukan pengecekan langsung harga gabah di berbagai daerah, yakni di Kabupaten OKU Timur dan Banyuasin Sumatera Selatan yang tercatat Rp 3.300-Rp 3.400 per kg, di Kabupaten Tulang Bawang Lampung dan Kabupaten Batubara Sumatera Utara Rp 3.400 per kg.
"Kami harapkan Bulog bergerak cepat menyerap gabah petani sesuai dengan HPP yang telah ditetapkan sampai pada tingkat petani dan penggilingan kecil. Hal ini agar Bulog dapat menyerap gabah petani sesuai dengan instruksi Presiden, minimal 4,5 juta ton GKP (gabah kering petani) 2015. Sehingga petani terus melakukan produksi dan tidak ada lagi impor beras," ungkap Amran.
Usai melakukan pengecekan langsung harga gabah di Yogyakarta dan Klaten Jawa Tengah tersebut, Amran akan melanjutkan pengecekan harga gabah di Sulawesi Selatan, Maluku, dan Maluku Utara. Ini dilakukan guna memperoleh langsung harga pembelian gabah petani secara nasional di tingkat petani dan penggilingan kecil.
"Sehingga gabah petani seluruh Indonesia cepat diserap Bulog dengan harga beli yang menguntungkan yakni sesuai HPP," jelas Amran.
(dnl/dnl)











































