Beberapa tahun lalu, asap dari kebakaran hutan di Sumatera sempat menghebohkan negara-negara tetangga. Karena asap tersebut sampai ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan Indonesia tidak perlu minta maaf.
"Kabut asap yang terjadi beberapa tahun lalu membuat warga Singapura dan Malaysia panik, dan mereka melakukan demo di Kuala Lumpur dan Singapura. Ada satu jurnalis bertanya apa kita harus meminta maaf kepada mereka. Saya jawab, kita tak perlu minta maaf, karena sebelumnya mereka mendapatkan iklim bagus karena hutan kita dan tidak pernah mengucapkan terima kasih," cetus JK.
Hal ini disampaikan oleh JK saat membuka seminar bertajuk 'Tropical Landscape Summit : A Global Investment Opportunity' di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (27/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk mengatasi persoalan ini kita mesti bekerjasama," kata JK.
"Intuk mengelola hutan dan lingkungan Ini bukan hanya tanggung jawab Indonesia tapi seluruh dunia. Ini mengenai lingkungan dan kehutanan," imbuh JK.
Sektor pertambangan juga selalu menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan. Ini semua karena kebijakan yang salah. JK mengakui, kebijakan pertambangan yang salah ini juga terjadi saat dirinya menjabat Wakil Presiden pada periode 2004-2009 lalu.
"Tapi sekarang kita laksanakan 2 hal, ada moratorium pembalakan, tidak ada lagi pembalakan. Sekarang mulai reforestasi. Tapi mohon buatlah mekanisme untuk kerjasama internasional ini. Saya pikir kita punya rumusan untuk hal ini," kata JK.
Indonesia juga telah melarang ekspor mineral mentah, sehingga ada proses industri tambang yang dilakukan di dalam negeri. "Kita mulai menerapkan kebijakan ketat untuk melestarikan lingkungan kita," ucap JK.
Namun, peraturan ketat ini pasti akan membuat pengusaha rugi juga.











































