KRL Mulai Dilirik Eksekutif Perusahaan, Ini Tanggapan PT KAI

KRL Mulai Dilirik Eksekutif Perusahaan, Ini Tanggapan PT KAI

- detikFinance
Senin, 27 Apr 2015 13:53 WIB
KRL Mulai Dilirik Eksekutif Perusahaan, Ini Tanggapan PT KAI
Jakarta - Eksekutif perusahaan termasuk yang bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ada yang memilih menggunakan KRL Commuter Line Jabodetabek saat berangkat dan pulang kerja. Pihak pengelola KRL Commuter Line, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) menanggapi fenomena ini.

Manajer Komunikasi Perusahaan PT KCJ, Eva Chairunisa menjelaskan angkutan KRL saat ini memang telah menjelma sebagai moda transportasi massal untuk semua segmen masyarakat, yakni masyarakat ekonomi kelas bawah, menengah hingga atas.

"KRL sekarang sudah menjadi salah satu angkutan massal bagi kalangan atas, menengah dan bawah," kata Eva kepada detikFinance Senin (27/4/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eva mengatakan masyarakat kelas atas dan menengah seperti jajaran eksekutif swasta dan BUMN memilih moda KRL karena alasan kecepatan dan ketepatan waktu tempuh, daripada kendaraan pribadi atau dinas.

"Misal naik KRL, dari Bogor-Jakarta Kota. Waktu tempuh 1,5 jam kalau naik kendaraan pribadi bisa 3 jam sehingga ini menjadi populer bagi berbagai kalangan," jelasnya.

Moda KRL juga populer bagi masyarakat kelas menengah bawah. Selain cepat, moda KRL dinilai sangat terjangkau dari sisi harga tiket.
"Kalau kelas menengah bawah itu melihatnya harga. Misal rute Bogor-Jakarta Kota hanya Rp 5.000," ujarnya.

Moda transportasi KRL kini memang telah menjelma menjadi angkutan massal untuk semua kalangan. Pertumbuhan penumpang KRL sangat drastis. KCJ mencatat rekor tertinggi yakni 795.000 penumpang per hari. Angka ini naik dua kali lipas setelah peluncuran e-ticketing pada tahun 2013 lalu. Target pengguna KRL, terus digenjot hingga 1,2 juta penumpang per hari pada tahun 2019.

"Sejalan dengan program yang di-annouce pemerintah yakni pengguna KRL naik 1,2 juta di 2019. Nah untuk program, maka kita lakukan pengadaan KRL. Pengadaan sudah ada sejak 2008 atau sejak KCJ berdiri. Sampai tahun 2014, KCJ sudah beli 664 unit. Tahun 2015, kita beli 120 sehingga totalnya sudah 785 unit," sebutnya.

Selain armada, KCJ menambah frekuensi perjalanan kereta. Angka ini terus ditingkatkan."Tahun 2014 ada 757 perjalanan. Di awal April 2015, ada 876 perjalan. Kita terus tambah hingga 959 perjalanan pada akhir Desember 2015," tuturnya.

KCJ juga menyiapkan sistem pembayaran yang bisa terkoneksi dengan moda transportasi massal lain. KCJ, sejak tahun 2013, telah menerapkan sistem e-ticketing. Ke depan, sistem ini mampu terkoneksi dengan jaringan tiket dari moda transportasi massal lain, seperti: Bus Trans Jakarta hingga MRT Jakarta.

"Kalau integrasi antar moda khususnya di pembayaran, kita sudah terapkan e-ticketing. ke depan bila ada program 1 kartu untuk berbagai moda, kita sudah siap," kata mantan Jurnalis ini.

Di tempat yang sama, Kepala Humas DAOP I PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bambang Prayitno menerangkan pihaknya berperan menyediakan fasilitas atau prasarana kereta seperti stasiun hingga konektivitas antar moda.

Meski tidak membedakan semua konsumen, KAI menyediakan fasilitas mumpuni toilet super bersih hingga kedai kopi Starbucks di beberapa stasiun KRL. Selain itu, KAI terus mendorong kerjasama pembangunan jaringan koneksi antar moda.

"Secara umum, konetivitas ada di eksternal PT KAI. Pada prinsipnya kami sudah siap. Misal di Gambir, sudah terhubung dengan Damri dan Trans Kakarta. Di Stasiun kota juga. Konektivitas tinggal peningkatan saja di beberapa lokasi," tuturnya.

(feb/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads