Demikian diungkapkan Chief Economist BRI Anggito Abimanyu, dalam paparan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2015 dan Dampaknya Pada Perekonomian Indonesia, di Gedung BRI, Jakarta, Senin (26/4/2015).
Dia menjelaskan, jika dilihat dari perkembangan sektor riil di kuartal I-2015, berbagai indikator tercatat negatif. Penjualan semen turun secara year on year (yoy), penjualan kendaraan bermotor, kredit industri perbankan, dan impor barang konsumsi juga ikut turun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping itu, tingkat konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) juga terpantau turun, padahal secara rata-rata, harga BBM sudah turun.
Volume konsumsi BBM turun hanya 2-2,8 juta KL per bulan.
"Konsumsi BBM harusnya naik karena harga turun tapi surprise nya nggak begitu. Harga turun konsumsi turun, memang kebutuhan turun atau aktivitas penggunaan premium turun," kata dia.
Selain itu, Anggito menyebutkan, komponen investasi juga tercatat turun dilihat dari turunnya impor barang modal di kuartal I-2015.
"Komponen investasi turun cukup drastis, 2014 naik 35%, tahun ini hanya 12% di kuartal I-2015, impor barang modal kuartal I-2014 US$ 7,2 juta, kuartal I-2015 turun cukup drastis, kalau impor barang modal turun, investasi ya turun," terang dia.
Anggito menjelaskan, belanja pemerintah juga dihabiskan hanya pada komponen belanja konsumsi untuk belanja gaji pegawai, dan lain-lain.
"Sudah kuartal I harusnya minimal seperempat, masih jauh dari target pengeluaran pemerintah. APBNP 2015 Janurai-Maret baru 13%, prediksi sampai akhir tahun hanya 81%," kata dia.
Namun begitu, pertumbuhan ekonomi selama setahun diperkirakan masih optimis bergerak di level 5,2%. Seperti diketahui, di 2014 lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,02% melambat dari 2013 5,58%.
"Semua negatif tapi bahan pangan positif, selama gaji naik, UMP naik, konsumen masih punya kemampuan tapi hanya menambah konsumsi bahan makanan," pungkasnya.
(drk/rrd)










































