Kondisi perekonomian dalam negeri yang lesu di awal tahun, juga dirasakan oleh para pengelola pusat perbelanjaan. Selain kinerja keuangan para perusahaan besar yang banyak melorot di awal 2015, pelaku usaha ritel di mal juga kena imbas lesunya perekonomian.
Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengatakan, sejak Januari hingga akhir April 2015, para pedagang termasuk ritel di mal mengalami penurunan penjualan rata-rata 20-30% per bulan.
"Dari laporan-laporan yang saya terima. Bulan-bulan ini pusat perbelanjaan turun 20%-30%, ini sudah serius, butuh stimulus," kata Ridwan kepada detikFinance, Selasa (28/4/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kunjungan ke mal masih ramai sedikit berkurang, tapi yang beli nggak banyak-banyak, atau beli barang-barang yang murah. Sekarang toko yang kualitas bagus tapi harga nggak mahal, itu sekarang yang laku, kayak Uniqlo," katanya.
Ridwan mengungkapkan, penyebab melemahnya daya beli masyarakat ini setidaknya dipicu beberapa faktor. Pertama, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, elpiji berdampak pada pengeluaran masyarakat.
Selain itu, yang paling terasa adalah belum cairnya anggaran pemerintah pusat termasuk di daerah seperti di DKI terkait proyek-proyek infrastruktur. Hal ini berdampak pada berkurangnya perputaran uang yang beredar di masyarakat.
"Uang yang beredar sedikit sehingga mempengaruhi pendapatan seseorang yang berdampak pada daya beli," katanya.
Ia mengilustrasikan, para kontraktor-kontraktor proyek yang mengandalkan proyek pemerintah belum bisa menikmati kucuran anggaran proyek. Namun ia berharap mulai Mei ini perputaran uang kembali pulih sejalan mulai bergulirnya proyek-proyek pemerintah.
"Uangnya yang berputar sedikit proyek-proyek belum jalan semua. Misalnya di DKI gaji karyawan belum jalan semua, supplier proyek juga berhenti
karena belum cair anggaran," katanya.
(hen/rrd)











































