Ekonomi China yang melambat, akan mempengaruhi negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang memang sebagian besar pasar ekspor komoditasnya dikirim ke negeri Tirai Bambu tersebut.
"Perlambatan perekonomian sudah pasti akan terjadi dalam kuartal pertama, kenapa? Karena kita lihat sendiri bahwa pertumbuhan ekonomi di China melambat," ujar Managing Director Senior Country Officer JPMorgan Indonesia Haryanto T. Budiman kepada detikFinance, Rabu (29/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Haryanto, rupiah melemah bukan karena semata-mata masalah dari dalam negeri, tapi memang karena dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang dunia.
"Anda bayangkan euro itu berapa rate-nya dibandingkan dolar AS, sekarang mendekati satu banding satu, itu menunjukkan bahwa dolar AS ini memang sedang kuat-kuatnya," ucap dia.
Namun begitu, perbaikan ekonomi AS yang menekan semua mata uang di dunia tidak sekuat yang diperkirakan para analis dan ekonom.
Bank sentral AS The Federal Reserve/The Fed ternyata belum yakin terhadap keberlangsungan pertumbuhan ekonomi di sana. Sehingga kenaikan suku bunga acuan belum juga terjadi.
"Tadinya orang memperkirakan Juni akan ada kenaikan suku bunga tapi itu tidak akan terjadi, saya baru balik dari AS minggu lalu, kebetulan saya hadir di acara Bank dunia, spring meeting di Washington, juga ada beberapa investor meeting di New York, dari diskusi dengan beberapa investor juga terungkap bahwa The Fed ini condong untuk men-delay kenaikan suku bunga, kemungkinan September atau lebih lama lagi. Karena mereka belum yakin tentang sustainability dari pertumbuhan ekonomi di AS, meskipun mereka yakin ekonomi AS tahun ini akan lebih baik dari sebelumnya," jelas dia.
Haryanto menjelaskan, penguatan dolar AS yang terlalu tajam, bakal berdampak pada bisnis di perusahaan-perusahaan AS sendiri, yang akan melemahkan daya saing.
"Memang the biggest uncertainly (ketidakpastian terbesar) ini adalah harga minyak yang penuh ketidakpastian, perang yang terjadi di Yaman berdampak pada kenaikan harga minyak. Namun demikian ada satu faktor lagi kalau misalkan ada kesepakatan yang terjadi antara AS dengan Iran di mana Iran dikeluarkan dari sanksi country oleh AS, itu Iran bisa mengekspor minyaknya dengan bebas, jadi ada kenaikan supplai," terang dia.
Lebih jauh dia menjelaskan, yang penting adalah soal pelemahan ekonomi China.
China merupakan salah satu negara terbesar tujuan ekspor Indonesia. China melemah, Indonesia pun akan mengikuti. Untuk itu, pemerintah Indonesia perlu membentuk basis manufaktur, agar ekspor Indonesia tidak bergantung pada barang komoditas saja.
"Kalau China terus melambat ke kita dampaknya akan lebih terasa karena ekspor kita masih 60% berupa komoditas dan itu tidak tergantung pada nilai tukar karena tergantung penawaran dan permintaan, kalau ada yang bilang rupiah melemah bagus untuk genjot ekspor itu betul secara teori tapi tidak mudah membalikkan telapak tangan," pungkasnya.
(drk/dnl)











































