Usulan Menteri Susi ini berdasarkan fakta bahwa di daerah-daerah 'lumbung' ikan justru infrastrukturnya sangat minim. Hasil ikan tangkap tersebut bila diangkut kapal memerlukan waktu lama dan kerap menghadapi cuaca buruk.
"1 kilometer runway dengan pesawat kecil bisa sangat membantu. Misalnya bawa ikan dan hasil laut Saumlaki (Kabupaten Maluku Tenggara Barat) ke Darwin hanya 1,5 jam dengan pesawat. It's easy," kata Susi di depan pengusaha perikanan di Kementerian Kelautan Perikanan, Jakarta, Senin (4/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
diperlukan hanya Rp 1 miliar. Konsep ini telah ia buktikan pada runway pribadi miliknya, Susi Air, di Pangandaran, Jawa Barat.
"1 km di pulau terluar. Rp 1 miliar untuk runway dan nggak perlu dari aspal. Itu bisa didarati pesawat yang bawa 12 sampai 19 penumpang dengan kargo bisa 2 ton," ujarnya.
Dengan menggunakan pesawat udara, ikan dan produk perikanan bisa dibawa dengan cepat sehingga tingkat kesegaran dan kualitas bisa terjaga daripada dibawa menggunakan jalur laut. Dampaknya pun, nilai atau harga ikan akan lebih mahal. Susi menjelaskan rencana tersebut baru dikomunikasikan dengan pelaku usaha.
"Kan ini baru dibicarakan tadi," sebutnya.
Usulan Susi sejalan dengan rencana Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Kemenhub mulai tahun 2015 akan membangun bandara di pulau terdepan hingga daerah terpencil. Pembangunan bandara untuk membuka daerah terpencil berada di 49 lokasi dan bandara di wilayah perbatasan sebanyak 26 lokasi.
(feb/hen)











































