"Memang orang khawatir karena kita nggak pernah di bawah 5%. Tapi kalau dibanding rata-rata dunia, hanya 3,5%. Kita masih 4,7%. Artinya, kalau dibilang jelek ya nggak, buktinya kita masih tinggi," ujar dia saat berbincang di Ruang Kerjanya, Kantor Pusat Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (6/5/2015).β
Menurutnya, perlambatan ini hanya bersifat sementara setelah instansi-instansi pemerintah menunda pengeluarannya karena menunggu penetapan anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P) 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keyakinannya ini, lanjut dia, didasarkan pada kondisi bahwa di periode tiga bulan pertama tahun 2015 ini Pemerintahan Presiden Jokowi, terutama di kementerian teknis bidang infrastruktur seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Perhubungan hingga Kementerian Energi, tidak tinggal diam saat menanti penetapan APBN-P tersebut.
"Sembari menunggu anggarannya disahkan, Kementerian-kementerian tidak diam. Mereka melakukan lelang-lelang meskipun belum bisa melakukan kontrak. Nah, sekarang ini begitu anggaran siap, proyek-proyak bisa langsung jalan karena lelang sudah dilakukan proses jadi lebih singkat pekerjaan bisa jalan lebih cepat. Prediksi, ini (target pertumbuhan ekonomi) bisa tercapai kalau semua yang kita rencanakan bisa berjalan. Kalau itu bisa jalan saya yakin semua itu bisa tercapai," ujar dia.β
(dna/ang)











































