"Tidak ada satupun orang yang bisa membuat miracle. Karena ini faktor eksternal," ungkapnya saat berbincang di Kantor Kemenko Perekonomian, Rabu malam (6/5/2015)
Faktor eksternal yang dimaksud adalah dari 3 hal. Pertama yaitu perlambatan ekonomi negara-negara yang menjadi mitra dagang utama Indonesia, seperti China yang diperkirakan cuma mampu tumbuh 6,8% tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua adalah penurunan harga komoditas, khususnya dari sektor perkebunan dan pertambangan. Ketiga adalah dampak dari kebijakan pelarangan ekspor barang tambang mentah.
"Padahal itu yang selama ini banyak dapat duit masyarakat. Sekarang dilarang kan memang arahnya hilirisasi agar 2; 3 tahun lagi ada nilai tambah dalam ekspor," jelasnya.
"Tiga faktor ini yang menjadi masalah. Sehingga sektor pertambangan itu menjadi negatif. Itu adalah pilihan ketika membuat policy," tegas Sofyan.
Dari sisi dalam negeri, memang masalahnya datang dari terlambatnya pencairan anggaran. Seiring dengan proses Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015 yang baru selesai di bulan Februari.
"Faktor lain akibat pemerintah terlambat melakukan belanja-belanja. Oleh sebab itu kuartal I kita cuma bisa tumbuh 4,7%. Tapi di negara-negara G20 kita tumbuh cukup baik. Kita cuma kalah dari Filipina dan Vietnam," paparnya.
Sehingga untuk mengukur kinerja menteri, harus melihat capaian perekonomian dalam kurun waktu setahun ke depan. Namun, apakah Sofyan siap bila harus diganti oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi)?
"Hak presiden, siapapun harus siap. Karena menteri itu bukan hak, ada kewajiban dan kehormatan menjalankan tugas. Bila tak perform lagi maka dikembalikan ke presiden. Karena presiden yang diberi mandat oleh masyarakat," jawabnya.
(mkl/ang)











































