"Hampir semua menteri perekonomian tidak jalan, jadi sebaiknya ada perombakan di jajaran menteri ekonomi," jelas Haryadi dalam Diskusi Polemik bersama Sindotrijaya di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (9/5/2015).
Haryadi mengungkapkan, saat ini semua pendapatan dari semua sektor usaha sedang menurun. Ditambah lagi banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang membuat para investor juga menurunkan niatnya berinvestasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditempat yang sama, Direktur Institute For Developments of Economics and Finance Enny Sri Hartati mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini mengalami perlambatan, dan terdapat dua indikator yang menyebabkan hal itu terjadi. Pertama, kontribusi struktur ekonomi masih timpang antara sektor jasa dengan sektor produksi. Di mana, pertumbuhan di sektor produksi tidak menunjukan progres yang signifikan, dan masih di dominasi sektor jasa.
"Ada dua Indikator (perlambatan pertumbuhan ekonomi). Pertama, kontribusi struktur ekonomi kita lebih didominasi dengan jasa. Kita ingin menggeser kontribusinya ke bidang pembuatan barang atau produksi tetapi tidak tercapai," terangnya.
Indikator kedua adalah dialihkannya subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang ditujukan untuk menggenjot sektor produksi, ternyata menimbulkan kemerosotan dibanyak sektor industri. Enny menambahkan, kebijakan di bidang ekonomi yang semula dibuat untuk meningkatkan penerimaan uang negara malah menurunkan pendapatan negara.
"Kedua, kebijakan menyetop subsidi BBM yang semula ditujukan untuk menggenjot sektor produksi, tetapi apa? Sektor rill kita banyak yang collapse. Ini sangat serius. Target untuk penerimaan (pendapatan) negara yang ditargetkan naik 30% malah menurun," tutup Enny.
(spt/rrd)











































