Ekonomi Lesu Hanya Tumbuh 4,7%, Ini Pengalaman Pahit Pengusaha

Ekonomi Lesu Hanya Tumbuh 4,7%, Ini Pengalaman Pahit Pengusaha

- detikFinance
Minggu, 10 Mei 2015 11:20 WIB
Ekonomi Lesu Hanya Tumbuh 4,7%, Ini Pengalaman Pahit Pengusaha
Jakarta - Dalam 3 bulan terakhir, perekonomian Indonesia mengalami kelesuan hingga hanya tumbuh 4,7%. Bagi pelaku usaha, menjalani 3 bulan pertama 2015 penuh dengan masa-masa yang tak menyenangkan.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kondisi-kondisi riil yang dialami pengusaha khususnya para anggota Hipmi, ketika ekonomi melambat.

Ia mengatakan faktor penyebab ekonomi Indonesia lesu di awal tahun salah satunya faktor kebijakan pemerintah yang memukul sektor usaha, meskipun ada pengaruh dari perlambatan ekonomi global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Properti turun, tambang turun, komoditas turun. Berat, omzet turun 30%, ini yang bertahan cuma UKM, kalau yang besar-besar ini mau mati," ungkap Bahlil kepada detikFinance, saat berkunjung ke kantor detikcom akhir pekan ini.

Bahlil mengatakan kondisi pahit di awal tahun ini termasuk yang dirasakannya sebagai pengusaha lintas bisnis. Misalnya sektor perhotelan, sektor ini mengalami penurunan pendapatan 40% selama 3 bulan pertama. Penyebabnya adalah kebijakan larangan rapat-rapat lembaga pemerintah di hotel, walaupun kini sudah diperlonggar.

"Di Hotel pendapatan turun ada yang sampai 40%. Pendapatan hotel itu paling banyak dari rapat-rapat, kalau kamar itu untung bersih Rp 150.000/kamar. Kalau tamu datang, nggak ada rapat maka mati hotel," katanya.

Menurut Bahlil, pemasukan paling banyak hotel di Indonesia justru berasal dari rapat-rapat pemerintah daerah. Sektor hotel termasuk yang menyumbang perlambatan ekonomi di triwulan I-2015.

"Kalau berharap kamar, hotel hanya rumah indekos, hotel bintang lima profit bersih paling tinggi Rp 200.000, karena biaya perawatannya tinggi. Investasi hotel 9 tahun paling cepat, itu pun kalau ada acara rapat, kalau nggak ada itu, habis 40% pendapatan, apa nggak teriak?" ungkap Bahlil.

Bahlil juga mengungkapkan faktor lambatnya serapan belanja pemerintah di awal tahun, juga ikut menyumbang melambatnya ekonomi di awal tahun. Sektor yang paling terasa adalah konstruksi yang juga menjadi lini bisnisnya. Termasuk sektor properti yang turun hingga 27% di awal tahun.

"Misalnya konstruksi turun, proyek belum jalan, dampaknya ke mana? permintaan semen turun, Bosowa, Tonasa, semen turun semua. Besi juga turun, ini dampak domino, permintaan seng turun, pemakaian paku pasti menurun," katanya.

Menurutnya, dampak lanjutan dari lesunya di sektor konstruksi berdampak pada serapan tenaga kerja di awal tahun. Namun, sebagai pengusaha, dirinya bertahan dan belum berencana untuk merumahkan karyawan atau PHK.

"Kita berusaha untuk tak merumahkan, masih kencangkan ikat pinggang, tapi kalau 4-5 bulan begini terus bukan lagi ikat pinggang," katanya tertawa.

Ia memperkirakan ekonomi Indonesia bisa di bawah 4% bila tak ada perubahan dari pemerintah. Ia juga mendorong sektor UKM dan industri kreatif mendapat dukungan dari pemerintah termasuk soal akses modal. Sektor ini dianggap paling tahan dari goncangan ekonomi.

"Yang menopang sekarang ini industri kreatif dan UKM," katanya.

(hen/zul)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads