Ada 'Super Dolar AS', Menkeu Bambang: Tak Ada Alasan Kita Bersantai-santai

Ada 'Super Dolar AS', Menkeu Bambang: Tak Ada Alasan Kita Bersantai-santai

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Rabu, 13 Mei 2015 10:26 WIB
Ada Super Dolar AS, Menkeu Bambang: Tak Ada Alasan Kita Bersantai-santai
Jakarta - Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) masih akan berlangsung dalam 3 tahun ke depan. Mata uang Paman Sam tersebut akan makin kuat seiring rencana bank sentral AS The Federal Reserve/The Fed menaikkan suku bunga acuannya. Kondisi ini disebut dengan 'super dolar AS'.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, dengan kondisi rupiah yang terus berfluktuatif seperti saat ini, tidak ada alasan Indonesia untuk bisa bersantai-santai. Perlu kerja keras agar nilai tukar menjadi lebih baik.

"Tidak ada alasan bersantai-santai dalam kondisi rupiah yang masih volatile," tegas dia dalam seminar ekonomi Strategi Mewujudkan Arsitektur Sistem Keuangan dan Perbankan Nasional yang Tangguh, di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (13/5/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bambang menjelaskan, gejala super dolar AS sekarang ini, bukan hanya berdampak pada mata uang Indonesia, tapi juga negara lainnya. Namun begitu, AS tidak akan terus membiarkan mata uangnya perkasa.

"Mereka khawatir ini menghambat, dolar makin super dan makin mahal, daya saing ekspor mereka mahal. Sementara ekspor harus bersaing dengan berbagai negara, konteksnya tidak mudah. Jadi gejala super dolar bukan hanya ke negara lain tapi paling penting buat AS sendiri," jelas dia.

Jadi, kata Bambang, The Fed tidak akan menaikkan suku bunganya terlalu tinggi. Ini untuk menjaga agar dolar AS tidak terlalu mahal.

"200 bps masih dalam pemikiran mereka, tapi nggak terlalu lama akan dilakukan. Apa pun yang akan dilakukan akan berdampak ke emerging market termasuk Indonesia," kata dia.

Bambang menambahkan, untuk menjaga sistem keuangan Indonesia tetap terjaga, pihaknya dengan berbagai instansi yang terkait akan melakukan berbagai antisipasi dengan terus memantau kondisi ekonomi global.

"Kami melalui FKSSK selalu memantau ekonomi global, dan memastikan keuangan kita bisa berjalan baik," tandasnya.

(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads