BI Pertahankan Kebijakan Moneter Cenderung Ketat

BI Pertahankan Kebijakan Moneter Cenderung Ketat

- detikFinance
Rabu, 16 Feb 2005 10:05 WIB
Jakarta - Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias) setelah mempertimbangkan kondisi makroekonomi dan inflasi pada awal tahun 2005 serta perkiraan kondisi ekonomi dan inflasi ke depan.Demikian salah satu poin hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diterima detikcom, Rabu (16/2/2005).RDG BI berpendapat, kebijakan itu harus tetap diterapkan untuk mengendalikan inflasi dengan tetap memberikan iklim yang kondusif bagi upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter cenderung ketat itu akan dilakukan melalui langkah penyerapan kelebihan likuiditas secara optimal. BI juga akan melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi berbagai faktor eksternal maupun internal yang dapat mengganggu kestabilan makro ekonomi khususnya nilai tukar dan inflasi. Berkaitan dengan laju inflasi di bulan Januari yang lebih tinggi dari perkiraan semula, RDG menilai hal itu disebabkan oleh faktor ekspektasi inflasi yang terkait erat dengan rencana kenaikan harga BBM dan dampak bencana di NAD dan Sumut. Selain itu, tekanan inflasi juga disumbang oleh kenaikan harga bahan makanan khususnya beras, karena terdapatnya penurunan pasokan sejalan dengan mundurnya musim panen. Sementara itu, nilai tukar rupiah selama Januari 2005 bergerak relatif stabil dengan kecenderungan menguat. Rata-rata selama bulan Januari tercatat sebesar Rp 9.201 per dolar AS atau menguat 0,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya. RDG menilai kecenderungan penguatan rupiah ini terutama didukung oleh terjaganya kondisi penawaran dan permintaan valas. Pasokan valas tersebut terutama bersumber dari aliran modal asing dalam bentuk portfolio investasi, sementara permintaan valas masih berada dalam level yang moderat.RDG menilai prospek ekonomi makro dalam tahun 2005 masih tidak berubah sesuai dengan proyeksi sebelumnya. Perekonomian Indonesia di triwulan I-2005 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5-6 persen (yoy), dengan sumbangan investasi dan ekspor yang secara bertahap meningkat. Hal ini seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekspor dan investasi terutama investasi non bangunan. Namun demikian kontribusi konsumsi swasta terhadap pertumbuhan ekonomi dinilai masih dominan sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat serta perkembangan suku bunga mendorong kemudahan pembiayaan konsumsi. Sejalan dengan perbaikan kinerja ekspor tersebut serta peningkatan kepercayaan investor asing di dalam negeri, kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) triwulan I-2005 masih cukup baik dan diharapkan dapat mendukung kestabilan kurs rupiah. Di sisi harga, inflasi diperkirakan akan mengalami tekanan peningkatan terkait dengan meningkatnya ekspektasi inflasi masyarakat akibat rencana kenaikan harga-harga yang teradministrasi. Dalam kaitan tersebut, BI dan Pemerintah akan secara terpadu berusaha meminimalkan dampak rencana kenaikan harga-harga teradministasi itu khususnya BBM terhadap kenaikan ekspektasi inflasi. Di samping itu, Bank Indonesia terus mencermati perkembangan eksternal khususnya kemungkinan kenaikan suku bunga Fed Fund lebih cepat dari perkiraan semula.Pertumbuhan EkonomiRDG juga menggarisbawahi, meskipun terdapat bencana alam tsunami di Aceh dan Nias, dan juga inflasi bulan Januari yang cukup tinggi, secara keseluruhan proyeksi variabel ekonomi makro tahun 2005 masih sesuai dengan proyeksi semula. Berdasarkan penilaian awal, setelah memperhitungkan bencana gempa alam di NAD dan Sumut, perekonomian Indonesia akan tumbuh pada kisaran 5-6 persen (yoy) dalam tahun 2005. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads