Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan, murahnya barang asal China akan diselidiki. Apakah barang-barang tersebut disubsidi oleh pemerintahnya. Bila ini terjadi, maka China melanggar aturan World Trade Organization (WTO) dan bisa digugat.
Meski begitu, Indonesia menurut Gobel, tidak perlu mengambil tindakan membanting harga produknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gobel mengatakan, pemerintah melakukan terobosan dan strategi menghadapi kondisi ini. Yaitu, melakukan market intelligence atau pengumpulan informasi di pasar internasional.
"Jadi kami mencari misalnya negara ini butuh barang apa. Sehingga kita tidak asal produksi, tapi kita tahu kebutuhannya apa. Lalu kami juga melakukan market intelligence produk China dijual ke mana saja," katanya.
Selama ini, ujar Gobel, China banyak mengimpor bahan baku dari Indonesia dan dijual lagi ke negara lain. "Daripada kita harus lewat China, bisa tidak kita ke negara yang membutuhkan langsung," ujar Gobel.
Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo menyebutkan, hampir semua harga barang yang diekspor turun.
Penurunan paling signifikan terlihat pada kelompok mesin dan peralatan listrik, furnitur, batu bara, minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO), hingga tekstil. Ini akibat perang harga yang terjadi.
(dnl/dnl)











































