Kisah Sukses Petani Salak Merapi, Ekspor ke China dan Omzet Rp 250 Juta/Bulan

Kisah Sukses Petani Salak Merapi, Ekspor ke China dan Omzet Rp 250 Juta/Bulan

- detikFinance
Sabtu, 16 Mei 2015 15:07 WIB
Kisah Sukses Petani Salak Merapi, Ekspor ke China dan Omzet Rp 250 Juta/Bulan
Jakarta - Salak asal Merapi, Yogyakarta sudah dikenal luas, bahkan hingga ke negeri China. Bahkan tak hanya China, Dubai, Singapura, dan Malaysia juga menyukai buah ini.

Surya Agung, Ketua Kelompok Tani Merapi Sleman mengatakan, sejak 2008 salak dari petani di lereng Merapi sudah bisa diekspor.

Untuk diketahui, Surya merupakan petani salak di lereng Merapi. Tepatnya di desa Kenteng, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kakek dan ayahnya sudah bekerja sebagai petani salak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria ini merupakan sarjana Teknologi Informatika dari Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. "Karena impian jadi petani, selepas lulus kuliah langsung terjun jadi petani. Saya sudah punya 3 anak. Mulai terjun sebagai petani salak sejak 1994," kata Surya ditemui detikFinance, di pameran Agricultural Products and Technology Expo 2015 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Sabtu (16/5/2015).

Ingin memperkuat pemasaran produk salaknya, Surya membentuk kelompok tani di desanya pada 2002, dengan koperasi sebagai badan pemasaran. Dari kelompok tani ini, salak yang dihasilkan menembus sejumlah pasar modern, dari supermarket hingga hipermarket di Yogyakarta.

"Kelompok tani menandatangani kontrak untuk memasok salak di Hypermart pada 2006, di tahun yang sama dengan swalayan Yogya, dan 2007 dengan Carrefour. Jadi otomatis produk salak kita sudah sampai nasional sampai kota-kota besar jaringan supermarket tadi. Kita tandatangan kontrak dengan mereka. Setiap gapoktan (gabungan kelompok tani) ini ini anggotanya 25-40 petani," papar Surya.

Banyaknya permintaan salak membuat kelompok tani ini kewalahan. Akhirnya, Surya membentuk Asosiasi Petani Salak Indonesia Merapi (APSIM), yang anggotanya sekitar 40 gapoktan di Kabupaten Sleman. Surya bertindak sebagai ketuanya, karena dia yang menciptakan jaringan petani ini.

Asosiasi ini mengincar pasar ekspor, dan menyiapkan pasokan salak yang besar. Selain itu, lewat asosiasi ini, para petani bisa menjaga standar kualitas salak untuk ekspor dan pasokan ke pasar modern.

"Pada 2008 kami bisa ekspor ke China. Itu sampai 20 ton per hari selama sebulan, saat Imlek. Jadinya permintaan darir China sangat besar. Kalau bukan menjelang Imlek, rata-rata ekspornya 3-4 ton sekali pengiriman, dengan 2-3 kali pengiriman dalam seminggu," papar Surya.

Tahun ini, asosiasi tersebut tengah melakukan promosi agar pasar salaknya bisa 'terbang' ke Australia. Surya tidak mengetahui persis berapa total omzet asosiasi ini. Namun untuk salak dari kebunnya sendiri, omzet penjualan per bulan mencapai Rp 250 juta.

"Nama brand salak kami 'Salak Super Sleman'. Salak kami berkualitas karena ada di Lereng Merapi, dengan aroma salak yang enak karena tanahnya vulkanik dari Merapi dan organik tanpa pupuk kimia," jelas Surya.

Selain itu, asosiasi ini juga membuat sejumlah produk olahan dari salak, seperti dodol, kue bolem, bakpia, hingga kripik.

"Bahkan, kami juga buat semacam agrowisata, 'Rumah Salak' namanya. Kita ada wisata edukasi di kebun salak kelompok tani di Desa Kenteng," kata Surya.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads