Arief melihat investor yang cocok untuk datang menanamkan modalnya adalah dari Malaysia, Tiongkok dan negara negara dari Timur Tengah.
"Jadi secara positioning kan sudah jelas, bahwa Sumbar itu untuk wisata syariah. Jadi investor yang kita undang itu dari Malaysia, dan China dan Timur Tengah," jelas Arief di Padang, Minggu (17/5/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau investasi di sini, para pebisnis itu akan membawa pasarnya ke sini juga pastinya. Bahkan untuk China, muslimnya sangat besar dan bisa dibawa ke sini," paparnya.
Jenis investasi yang bisa masuk di antaranya adalah properti seperti hotel dan resor. Kemudian bisa masuk dalam ritel, makanan dan minuman serta yang sesuai dengan konsep kebutuhan masyarakat muslim.
Arief menyebutkan, jumlah wisatawan yang datang ke Sumbar adalah 6,5 juta orang per tahun. Akan tetapi, dari mancanegara hanya sebesar 1% dari total atau 65 ribu orang. Sebanyak 80% merupakan warga negara Malaysia.
"Artinya memang masih banyak peluang untuk mendorong masuknya investasi di sini," pungkasnya.
Beberapa hari lalu telah disepakati investasi dari perusahaan asal Dubai, Tasweek sebesar US$ 300 juta. Perusahaan properti tersebut akan membangun hotel dan resort dengan kualitas premium.
"Saya baru saja deal dengan Tasweek US$ 300 juta. Itu kan nanti bisa kita arahkan investor dari negara yang sama ke Mande ini," imbuhnya.
(mkl/ang)











































