Meski surplus cukup besar, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengaku bila neraca perdagangan minyak dan gas (migas) masih defisit. Alasannya impor bahan bakar minyak (BBM) lebih besar ketimbang ekspor minyak mentah.
"Neraca perdagangan tahun ini (Januari-April) surplus total US$ 2,8 miliar, di mana surplus non migas sebesar US$ 4 miliar dan defisit perdagangan migas US$ 1,3 miliarβ," kata Gobel saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Senin (19/05/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perkembangan perdagangan selama April 2015, ekspor US$ 13,1 miliar sedangkan impor US$ 12,6 miliar. Dengan catatan itu, neraca perdagangan surplus besar US$ 454,4 juta," tambahnya sambil senyum sumringah.
Gobel menjelaskan, surplus bulan ini ditopang oleh peningkatan surplus perdagangan non mogas dan defisit migas yang semakin besar. Defisit migas, kata Gobel, dipicu oleh semakin meningkatnya defisit perdagangan hasil minyak menjadi US$ 1,1 miliar di April 2015, atau naik 6,9% dibandingkan Maret 2015.
Sementara itu, Gobel menyebut beberapa negara mitra dagang Indonesia menjadi penyumbang surplus neraca perdagangan non migas seperti India, AS. Filipina, Belanda, dan Pakistan. Secara total lima negara ini menyumbang total surplus perdagangan non migas US$ 2,3 miliar.
"Sedangkan negara penyumbang defisit terbesar non migas yaitu Korsel, Thailand, Australia, Jepang, dan Tiongkok jumlahnya mencapai US$ 2,2 miliar," terangnya.
(wij/dnl)











































