Wakil Ketua Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Witono Suprapto mengatakan, untuk mewujudkan konektitivas Indonesia membutuhkan berbagai pendukung sesuai dengan visi INSA hingga 2019, antara lain, butuh 7 juta truk, 3000 kapal pelayaran, 14.306 kapal niaga, 250 kapal ASDP, 260 kapal perintis, 2.000 depo kontainer, 2.154 terminal, 3.671 Gerbong KA, 560 Pesawat, hingga pelabuhan-pelabuhan.
Kondisi konektivitas saat ini memang masih terbatas. Witono mengatakan, jumlah pelabuhan dari data Pelindo 2014 di Jawa ada 11 pelabuhan, Sumatera 22 pelabuhan, Kalimantan 13 pelabuhan, Sulawesi 11 pelabuhan, NTT 6 pelabuhan, Maluku dan Papua 8 pelabuhan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Witono mengakui, memang masih banyak kendala yang harus dihadapi selain persoalan infrastruktur. Selain itu, ada kebijakan aturan teknis, kondisi pelabuhan, ketentuan perdagangan, tarif, dan moneter.
Selain itu, ada kendala yang masih dihadapi, antara lain produktivitas buruh bongkar muat rendah, besaran atau jenis tarif meningkat terus, antrean kapal di berbagai pelabuhan, peralatan bongkar muat berusia tua, produktivitas bongkar muat peti kemas rendah.
Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT) Trisakti Jakarta yang juga mantan Dirjen Perhubungan Laut Tjuk Sukardiman mengatakan, konsep tol laut aslinya adalah penerapan azas cabotage yaitu prinsip angkutan laut di dalam negeri diangkut oleh kapal berbendera nasional dan awak kapal dalam negeri.
"Kalau di China kapal harus dibuat oleh orang China, pelaut orang China, galangan orang China. Azas cabotage secara murni dan konsekuen dengan terselenggaranya angkutan laut yang reguler, andal, dan terjangkau," katanya
Ia mengatakan, asal muasal konsep tol laut dan poros maritim nusantara, adanya Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) (1,2, dan 3). Dengan adanya ALKI, terintegrasinya angkutan laut nasional dengan angkutan internasional.
"Namanya pembangunan tol laut nusantara dan poros maritim dunia," katanya.
(hen/dnl)











































