Selain kedua itu, impor BBM juga turun karena penggunaan BBM subsidi, yaitu solar oleh kapal besar berkurang.
"(Pemberantasan IUU fishing) sudah memberikan dampak positif dari data statistik. Intinya IUU fishing bukan hanya merugikan negara tetapi juga saya confirm kepada Menteri ESDM saat rapat kabinet, impor BBM juga turun 30%," tutur Susi saat ditemui di Gedung Mina Bahari I, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Senin (19/05/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kedua naiknya pertumbuhan perikanan, di mana akhir tahun lalu bisa dilihat akhir triwulan IV-2014 tumbuh 7,46%, kemudian triwulan I -2015 naik 8,64% di saat sektor lain melambat, perikanan justru naik," tambahnya.
Susi mengatakan, penyebab tumbuhnya sektor perikanan di dalam negeri adalah pemberantasan illegal fishing yang dikeluarkannya, seperti moratorium perizinan kapal eks asing, pelarangan transhipmentm hingga pelarangan penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan.
"Padahal ribuan kapal berhenti, ratusan ada di dermaga ngandang (tidak melaut). Jadi IUU tidak berkontribusi pada angka kita," tegas Susi.
Dari paparan Kepala BPS Suryamin, kinerja sektor perikanan pada triwulan I-2015 tumbuh 8,64%. Namun bila dilihat per kuartal justru sektor perikanan defisit 2,81%, karena disebabkan cuaca buruk dan nelayan enggan melaut. Sedangkan perkembangan nilai tukar petani (NTP) pada April 2015 adalah 101,91 atau turun 0,43% dibandingkan Maret 2015 sebesar 102,35%.
Kemudian, nilai ekspor ikan di 2014 juga naik menjadi US$ 3,11 miliar, dari nilai di 2013 sebesar US$ 2,8 miliar. Sedangkan periode Januari-April 2015 ekspor ikan sudah mencapai US$ 906 juta. Total nilai impor ikan sepanjang 2013 adalah US$ 216 juta, di 2014 adalah US$ 209 juta, sedangkan Januari-April 2015 mencapai US$ 67,42 juta.
"Harga ikan eceran ikan kembung dan bandeng pada Maret sampai April turun," kata Suryamin.
(wij/dnl)











































