Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, perhatian terhadap kecelakaan pesawat atau transportasi udara sangat tinggi, dibandingkan dengan kecelakaan transportasi barat. Meskipun jumlah korban jiwa kecelakaan transporasi udara lebih sedikit.
"Misal kecelakaan bus meninggal 20 orang diberitakan 1 hari. Pesawat jatuh meninggal, kemudian diberikan bisa 1 bulan. AirAsia itu 2 bulan jadi headline Indonesia dan dunia," kata JK saat groundbreaking Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (18/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi International Civil Aviation Organization (ICAO) atau organisasi penerbangan sipil dunia mengeluarkan hasil audit terhadap standar keselamatan penerbangan Indonesia. Audit keselamatan penerbangan yang dikeluarkan oleh ICAO dan Universal Safety Oversight Audit Program (USOAP) menunjukkan, kondisi standar keselamatan penerbangan Indonesia dibandingkan negara-negara dunia termasuk negara Asia tenggara (ASEAN) tergolong rendah.
Dari 10 negara di ASEAN, level keselamatan penerbangan Indonesia berada di posisi buncit.
Hal sama dikeluarkan oleh otoritas penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA)., yang memberi peringkat level 2 atau di bawah standar untuk kategori International Aviation Safety Assessment (IASA) kepada dunia penerbangan Indonesia.
JK ternyata tidak menaruh perhatian di sisi udara (air side). JK juga menekankan pentingnya perhatian pada angkutan udara di sisi darat atau land side seperti bandara. Menurut JK, bandara harus diperhatikan oleh operator. Bandara, kata JK, merupakan simbol atau cerminan suatu daerah atau kota.
"Bandara di mana pun jadi citra orang datang ke satu daerah. Maka bandara harus dibangun dengan baik," ujarnya.
(feb/dnl)










































