Hal itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad dalam sosialisasi mengenai OJK di hadapan para profesional Indonesia di Spanyol, Minggu (17 Mei 2015) malam waktu setempat.
"Q2 diprediksi akan membaik, terutama kalangan investor meyakini hal itu," ujar Hadad.
Obligasi pemerintah 38% dan saham 64% dimiliki investor asing. Ini berperan dalam meningkatkan kepercayaan. Rupiah juga terkendali cukup baik, tidak meluncur bebas.
Konsumsi masyarakat sedang digenjot. Bank juga didorong untuk menggelontorkan kredit, termasuk baru-baru ini kredit untuk sektor kelautan, termasuk untuk para nelayan.
Menurut Hadad, sejak Q1 memang perekonomian Indonesia sedikit ada penurunan dan Indonesia bukan satu-satunya. Berbagai indikator ekonomi global ikut mempengaruhi Indonesia.
"RRC mengalami penurunan tajam, dari rata-rata 8-10%, kini meluncur ke 6%. Ketika permintaan RRC melemah, maka ekspor RI juga terganggu, karena RRC adalah salah satu mitra penting kita," terang Hadad.
Penyebab pertumbuhan Q1 terganggu antara lain juga karena anggaran belum cair, belum ada tupoksinya akibat ada pergantian nama kementerian dan sebagainya.
"Ini juga menjadi pelajaran agar di kemudian hari kita tidak mudah mengubah nama kementerian," imbuh Hadad.
Saran Hadad kepada pemerintah agar ekonomi bergerak naik kembali adalah disbursment (penggunaan dana, red) APBN harus cepat dan segera dibelanjakan.
"Jika ekspor impor lemah, investasi lemah, maka andalannya tinggal APBN dan konsumsi masyarakat," papar Hadad.
Tetapi, lanjut Hadad, politik Indonesia juga perlu stabil dan beres, sebab kalau tidak maka juga akan menpengaruhi dunia usaha, masyarakat dan investor.
"Iklim politik perlu kondusif agar upaya untuk membangun dan memacu pertumbuhan ekonomi dapat terealisasi," tegas Hadad.
Sebelumnya Hadad menjelaskan mengenai hubungan istimewa Indonesia-Spanyol. Kedua negara aktif di banyak fora, salah satunya di G20, juga fora lain yang lekat dengan urusan keuangan.
Spanyol sedang mencoba recover dari persoalan ekonomi, apalagi dua tiga tahun belakangan ini perkembangan ekonomi global kurang kondusif, karena persoalan di berbagai kekuatan berpengaruh.
"Persoalan Eropa tidak kalah rumit, berbagai upaya dan inisiatif yang diambil ECB (European Central Bank) belum berhasil membawa pada situasi yang diharapkan," pungkas Hadad.
Hadad berada di Madrid dijadwalkan bertemu dengan kalangan investor dan perbankan Spanyol, untuk menjelaskan kebijakan baru Indonesia mengenai pengaturan, pengawasan sektor jasa keuangan dan perkembangan ekonomi Indonesia.
Di sela kunjungan kerja, Hadad menyempatkan bertemu dengan masyarakat untuk menyampaikan update mengenai perkembangan kebijakan keuangan di Indonesia.
Mereka antara lain profesional yang bekerja di Airbus, Repsol, pelaku bisnis pariwisata, juga perwakilan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). (es/es)











































