"Pelayanan di Teluk Lamong serba otomatis dan elektronik, tidak ada cincai-cincai dan nggak ketemu orang. Akan tahu siapa yang tidak perform, semuanya kan elektronik kalau tidak direspons di mana macetnya," kata Jarwo, saat ditemui di Kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Jalan Medan Merdeka Barat Jakarta, Selasa (19/05/2015).
Dengan sistem serba elektronik, Jarwo menjamin waktu tunggu bongkar muat (dwelling time) di Pelabuhan Teluk Lamong tidak akan terlalu lama. Target dwelling time yang harus dicapai adalah sesuai dengan ketentuan pemerintah yaitu 4,7 hari untuk jalur internasional.
"Minimum harus memenuhi target pemerintah yaitu 4,7 hari," tambahnya.
Jarwo juga mengungkapkan, meski Pelabuhan Teluk Lamong belum diresmikan, namun sudah mulai beroperasi sejak 11 November 2014. Hasilnya keberadaan Pelabuhan Teluk Lamong membantu mengurai kepadatan kontainer di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
"Selama ini Teluk Lamong belum ada traffic international, baru domestik. Karena di Tanjung Perak itu kalau pelayaran internasional oke, karena fasilitasnya tersedia yang jadi masalah adalah domestik," sebutnya. (Wiji Nurhayat/Wahyu Daniel)











































